PUBLIC RELATION DI TENGAH PERKEMBANGAN MEDIA BARU
Sahuri
Program S2
Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas
Gadjah Mada Yogyakarta
Email :
huri.adam@gmail.com
Abstrak
Makalah ini akan
mendiskusikan isu-isu teknologi komunikasi dan konvergensi media dengan
berkembangnya media baru (new media) yang memberikan implikasi terhadap manajemen
komunikasi korporasi/organisasi
khususnya Public Relations. Public Relations adalah fungsi manajemen yang
membangun dan mempertahankan hubungan yang baik dan bermanfaat antara organisasi
dengan publik yang mempengaruhi kesuksesan atau kegagalan organisasi tersebut. Media baru memiliki potensi untuk
digunakan secara searah (one way) dan dua arah (two way). Kemudian muncul istilah e-PR yang memanfaatkan
new media antara lain web dan
media sosial. Dengan mengambil studi kasus Bank Danamon dalam situs http://m.prindonesia.co dimana manajemen
memanfaatkan web dan media sosial untuk menjalin hubungan dengan pihak
eksternal dan internal. Kekuatan
media baru bisa digunakan untuk membangun, memelihara, dan memperkuat hubungan,
citra, dan reputasi.
Kata
Kunci : Media baru (new
media), Public relations, Reputasi
PENDAHULUAN
Kehadiran teknologi komunikasi dan konvergensi media
dengan berkembangnya media baru (new media) memberikan implikasi dalam
berbagai bidang termasuk manajemen
komunikasi korporasi/organisasi khususnya public relations.
Penggunaan media baru untuk organisasi bukan tanpa alasan. Media baru memiliki
kelebihan dibandingkan dengan media lama, yaitu menyediakan fasilitas interaksi
antar pengguna yang bersifat tekstual, audio, dan audio visual, serta menembus
batas ruang dan waktu. Kelebihan dan nilai tambah yang dimiliki media baru
tersebut kemudian digunakan organisasi-organisasi untuk menyelenggarakan
program dan kegiatannya. Organisasi-organisasi pemerintah maupun swasta secara
umum telah banyak yang memiliki website organisasi. Bahkan beberapa
organisasi sudah menggunakan media sosial seperti facebook, twitter, blog,
dan sejenisnya.
Tantangan bagi organisasi di dalam era media baru
adalah beradaptasi dengan lingkungan. Beradaptasi pengertiannya tidak sekedar
menyesuaikan dengan lingkungan sosial yang dapat dijangkau secara fisik, namun
juga dengan lingkungan yang bersifat virtual. Lingkungan yang bersifat virtual
memiliki arti penting karena ini menjadi penghubung pada realitas fisik.
Pengaduan permasalahan melalui media baru merupakan contoh bahwa realitas
virtual menjadi instrumen penghubung realitas nyata. Organisasi dihadapkan pada
pilihan untuk memilih sistem terbuka atau tertutup dengan segala konsekuensi.
Sistem tertutup membuat organisasi tidak dapat beradaptasi dengan dinamika
lingkungan. Dalam lingkungan virtual, penyebaran pesan menjadi tidak terkendali
sehingga mustahil bagi organisasi mengendalikan pergerakan pesan. Organisasi
dapat memilih sitem terbuka dengan konsekuensi harus mampu menyiapkan diri
untuk berkomunikasi dua arah dengan publik.
Organisasi profit maupun non profit baik swasta
maupun pemerintah secara umum telah menggunakan media baru sesuai dengan
kepentingan masing-masing. Hal ini ditandai dengan pemanfaatan web site dan
media sosial yang semakin meningkat di seluruh dunia. Media baru memiliki potensi
untuk digunakan secara searah (one way) dan dua arah (two way). Jika
penggunaan media baru masih menggunakan pola searah maka tidak berbeda dengan
penggunaan media lama. Hal ini dapat dilihat dari karakter media lama seperti
radio, televisi, suratkabar, majalah yang cenderung berpola searah dalam proses
komunikasi. Karakter ideal media baru lebih dekat dengan karakter ideal public relations model dua arah (two
way) terutama dua arah yang simetris (two way symmetric).
Everett M. Rogers dalam Abrar (2003: 17-18)
merangkumkan perkembangan media komunikasi ke dalam empat era, yaitu: Pertama
era komunikasi tulisan; Kedua era komunikasi cetak; Ketiga era telekomunikasi,
dan; Keempat era komunikasi interaktif. Teknologi media baru mengalami
perkembangan, dari yang menopang komunikasi searah menjadi dua arah. Namun hal
tersebut tidak serta merta dapat diaplikasikan oleh organisasi. Media baru
dapat menampung segala keluhan atau permasalahan dari publik, namun jika tidak
diimbangi kemampuan untuk menjawab persoalan dengan cepat maka komunikasi dua
arah tidak dapat berlangsung dengan optimal. Penggunaan media baru dalam
aktivitas public relations dengan
pola dua arah juga memerlukan intensitas waktu yang terjadwal/rutin. Hal ini
karena interaktivitas antara organisasi dan publik memerlukan intensitas waktu
yang cukup. Penggunaan media baru secara tidak terjadwal menunjukan
ketidakseriusan dalam menggunakan media baru. Hal tersebut juga dimungkinkan
karena ketidaksiapan sumber daya manusia, dan ketiaksiapan manajemen mengelola
media baru dengan model komunikasi dua arah. Komunikasi searah dalam media baru
menjadi lebih mudah karena dapat diaplikasikan tanpa ada situasi “deadline” seperti
media massa.
Media baru memiliki beberapa variasi jenis, namun
yang lebih dikenal penggunaannya untuk organisasi yaitu media sosial dan web
site organisasi, dan email. Media sosial sendiri memiliki variasi yaitu
yang sering dipakai organisasi dan atau personal. Situs jejaring sosial (social
networking site) seperti facebook dan twitter merupakan media sosial yang
biasa dipakai untuk kepetingan individu maupun organisasi. Dalam facebook dan
twitter memungkinkan penggunanya menggunakan akun organisasi maupun akun
individu.
Setiap perusahaan/organisasi pada umumnya telah
banyak yang memiliki web site organisasi dengan berbagai variasi
penggunaannya. Termasuk bank Danamon, Web site pada mulanya bersifat
statis yang diperbaharui secara berkala sehingga hanya untuk menyebarkan
informasi berupa profil perusahaan. Dalam perkembangannya, teknologi web memungkinkan
untuk komunikasi dua arah secara interaktif sesuai kapasitas yang dimiliki.
Namun demikian tidak setiap organisasi/perusahaan menggunakan web site secara
interaktif. Pandangan bahwa web site sebagai pelengkap menjadikan web
site organisasi tetap bersifat statis. Selain itu, budaya birokrasi
organisasi yang tidak siap menghadapi interaktivitas media baru yang cepat,
menyebabkan keluhan-keluhan publik yang disampaikan melalui web site organisasi
menjadi tidak terjawab dan tertangani dengan cepat.
TINJAUAN
PUSTAKA
Media Baru (New Media)
Media baru memiliki kelebihan dibandingkan dengan
media lama, yaitu menyediakan fasilitas komunikasi dua arah, baik secara
tekstual, maupun audio visual dengan jangkauan seluruh dunia yang terhubung dengan
internet, dengan waktu yang relatif cepat sesuai kapasitas kecepatan jaringan.
Bentuk media baru sebagaimana dikemukakan Flew (2005) memiliki tiga bentuk,
yaitu teknologi informasi dan komputer, jaringan komunikasi, dan digitalisasi
media dan konten informasi. Fasilitas yang canggih tersebut dapat diadopsi
organsisasi terutama untuk pengembangan dan optimalisasi fungsi-fungsi
tertentu, misalnya pelayanan publik, pemasaran, mengembangkan hubungan dengan
publik, dan transaparansi organisasi.
Karakteristik media baru sebagaimana
dijelaskan Rogers (1986) memiliki 3 ciri, yaitu interactivity,
demassification, dan asynchronous. Interactivity memiliki makna
terjadi komunikasi dua arah dimana masing-masing pengguna dapat berperan
sebagai pengirim dan penerima pesan dan menembus batas ruang dan waktu. Demassification
memiliki makna control pesan berada pada individu pengguna. Asynchronous
memiliki makna pesan dapat dipertukarkan dengan cepat.
Media baru (new media) dapat dikategorikan
berdasarkan kesamaan saluran dan kedekatan tipe penggunaan, konten, dan konteks
sebagai interpersonal communication media, interactive play media,
information search media, dan collective participatory media (McQuail, 2010:156).
Sebagai media komunikasi interpersonal, media baru memberikan akses kepada
individu untuk berkomunikasi dengan individu yang lain melalui ponsel (mobile
phone), dan berkirim surat via email. Dalam konteks sebagai interactive
play media, media baru memiliki basis pada komputer, video games, dan
perangkat-perangkat virtual (virtual reality device). Media baru
menyediakan fasilitas interaktif terutama melalui permainan permainan online.
Dalam konteks sebagai information search media, media baru
memberikan akses seluas-luasnya kepada individu untuk mengakses informasi dalam
format teks, audio, audio visual, bahkan animasi. Dalam konteks sebagai collective
participatory media, media baru memberikan ruang untuk individu berbagi dan
bertukar informasi, ide-ide, pengalaman, dan menjalin hubungan (relationship)
secara personal.
Perbedaan mendasar media baru dan media lama menurut
Mcquail (2010 : 157) dilihat dari perspektif pengguna sebagai berikut:
§ Media
baru memiliki interactivity, yaitu komunikasi dua arah antar pengguna.
§ Media
baru memberikan fasilitas social presence meskipun bersifat virtual.
§ Media
baru dalam konteks media richness dapat menjembatani perbedaan kerangka
referensi, mengurangi ambiguitas, menyediakan lebih banyak tanda (cues) melibatkan
kepekaan dan lebih personal.
§ Media
baru memberikan autonomy, yaitu pengguna dapat mengendalikan isi dan
penggunaan, dan independen terhadap sumber.
§ Media
baru menawarkan aspek playfulness yaitu unsur hiburan dan kesenangan,
tidak sekedar penggunaan instrumen (alat).
§ Media
baru memberikan privacy kepada pengguna untuk menggunakan jenis konten
tertentu.
§ Media
baru menawarkan personalization yaitu konten dan penggunaan media yang
bersifat personal.
Public
Relations Organisasi/Korporat
Menurut Kotler dan Armstrong (2008: 117), ”Public Relations (hubungan masyarakat)
ialah membangun hubungan baik dengan berbagai kalangan untuk mendapatkan
publisitas yang diinginkan, membangun citra perusahaan yang baik, dan menangani
atau menghadapi rumor, berita, dan kejadian tidak menyenangkan”.
Menurut Marsefio S. Luhukay dalam Jurnal Scriptura (2008:
19) Public Relations (PR) hadir
sebagai suatu kebutuhan, kebutuhan untuk menjembatani organisasi dengan para
pemangku kepentingan (stakeholders). Jembatan yang dibangun PR bukanlah
jembatan keledai, tetapi jembatan yang sungguh-sungguh kokoh, berdiri atas
dasar Trust, Honest, dan Credibility. Public Relations ada, karena ada kepercayaan. Artinya masyarakat
percaya pada organisasi dan organisasi percaya pada masyarakat atas dasar
saling pengertian dan win-win solution. PR membangun citra dan reputasi
organisasi lewat opini publik yang menguntungkan (favourable) melalui kaca mata
publik yang memotret aktivitas organisasi di media massa. Lewat citra dan
reputasi organisasi tetap dapat berdiri kokoh dalam ranah kompetisi yang sangat
tajam merebut pangsa pasar dan konsumen yang loyal pada produk dan servis dari
organisasi.
Public Relations (PR) adalah fungsi manajemen
yang membangun dan mempertahankan hubungan yang baik dan bermanfaat
antara organisasi dengan public yang mempengaruhi kesuksesan atau kegagalan
organisasi tersebut (Cutlip, Center, & Broom, 2009: 6). Dalam buku “Effective Public Relations”
Menurut Rex F. Harlow, dalam definisinya mencakup elemen konseptual
dan operasional: Public Relations adalah fungsi manajemen tertentu yang
membantu membangun dan menjaga lini komunikasi, pemahaman bersama,
penerimaan mutual dan kerja sama antara organisasi dan publiknya; PR melibatkan
manajemen problem atau manajemen isu; PR membantu manajemen agar tetap
responsif dan mendapat informasi terkini tentang opini publik: PR
mendefinisikan dan menekankan tanggung jawab manajemen untuk melayani
kepentingan publik; PR membantu manajemen tetap mengikuti perubahan dan
memanfaatkan perubahaan secara efektif, dan PR dalam hal ini adalah sebagai
sistem peringatan dini untuk mengantisipasi arah perubahan (trends); dan PR
menggunakan riset dan komunikasi yang sehat dan etis sebagai alat utamanya
(Cutlip, Center, & Broom, 2009: 9).
Definisi Menurut (British) Institute of Public Relations (IPR) PR adalah keseluruhan upaya
yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka menciptakan
dan memelihara niat baik (good-will) dan saling pengertian antara suatu
organisasi dengan segenap khalayaknya. Definisi Menurut (Frank Jefkins) PR
adalah semua bentuk komunikasi yang terencana, baik itu ke dalam maupun ke
luar, antara suatu organisasi dengan semua khalayaknya dalam rangka mencapai
tujuan-tujuan spesifik yang berlandaskan pada saling pengertian. Pertemuan
asosiasi-asosiasi PR seluruh dunia di Mexico City pada bulan Agustus 1978,
menghasilkan pernyataan mengenai definisi PR sebagai berikut: “Praktik PR
adalah sebuah seni sekaligus ilmu sosial yang menganalisis berbagai
kecenderungan, memperkirakan setiap kemungkinan konsekuensinya, memberi masukan
dan saran-saran kepada para pemimpin organisasi, serta menerapkan
program-program tindakan yang terencana untuk melayani kebutuhan organisasi dan
kepentingan khalayaknya (Jefkins & Yadin, 2004: 9-11).
Jadi berdasarkan definisi-definisi tersebut terdapat
beberapa inti dari public relations
yakni: goodwill, kepercayaan, pengertian pada dan dari publik sesuatu badan
khususnya dan masyarakat umumnya. Dalam public
relations terdapat suatu usaha untuk mewujudkan hubungan yang harmonis
antara sesuatu badan dan publiknya, usaha untuk memberikan atau menanamkan
kesan yang menyenangkan, sehingga akan timbul opini publik yang menguntungkan
bagi kelangsungan hidup badan tersebut.
Peran adalah abstraksi pola perilaku
individu-individu dalam organisasi (Dozier, 1992). Peran merupakan kunci untuk
memahami fungsi public relations dan komunikasi organisasi. Peran praktisi public
relations menurut Broom dan Dozier (2006) dibedakan atas dua dikotomi,
yaitu peran manajerial dan peran teknisi. Peran manajerial meliputi expert
prescriber, problem-solving process facilitator, dan communication
fasilitator. Peran teknisi yaitu communication technician. Peran expert
prescriber memposisikan praktisi PR untuk mendefinisikan masalah,
mengembangkan program, dan bertanggungjawab atas penerapannya. Dalam peran ini,
praktisi PR bertugas seperti konsultan untuk masalah yang dihadapi organisasi
sementara manajemen bersifat pasif dan menyerahkan penyelesaian masalah kepada
praktisi public relations. Peran problem-solving process facilitator menurut
Broom (Dozier, 1992) memposisikan praktisi public relations membantu
manajemen untuk berpikir secara sistematis melalui komunikasi organisasi dan
menghubungkan masalah pada solusi. Manajemen dan praktisi public relations
bersama-sama mencari pemecahan masalah tahap demi tahap. Peran manajerial
ketiga yaitu communication fasilitator yang memposisikan public relations menjadi fasilitator bertemunya
manajemen dan publik. Peran ini memiliki perhatian pada proses dimana kualitas
dan kuantitas informasi mengalir diantara manajemen dan publik.
Peran teknisi komunikasi menempatkan praktisi public relations sebagai pihak yang
memproduksi informasi dan mengkomunikasikan ke pihak luar sesuai arahan
manajemen. Peran ini dalam pandangan Broom dipandang sebagai journalist in
resident karena menggunakan praktisi yang memiliki keahlian dan pengalaman
bekerja di media. Peran public relations dalam organisasi secara struktural
ditentukan oleh pemegang kekuasaan.
Menurut Grunig (Putra, 1999), faktor yang
mempengaruhi praktek public relations
dalam organisasi yaitu pengendalian kekuasaan (power control). Pemegang
kekuasan dalam organisasi adalah pihak yang menentukan praktek public
relations melalui keputusan-keputusan yang dikeluarkan. Sedangkan keputusan-keputusan
tersebut dipengaruhi budaya perusahaan, potensi yang dimiliki bagian public
relations, dan pemahaman para pemegang kekuasaan organisasi terhadap public
relations.
Kontribusi public relations dalam organisasi
dapat diukur berdasarkan peran yang dijalankan. Menurut Broom dan Dozier (2006)
terdapat 4 tipe peran public relations,
yaitu penasehat ahli (expert prescriber), fasilitator proses pemecahan
masalah (problem solving process facilitator), fasilitator komunikasi (communication
facilitator) dan teknisi komunikasi (communication technician). Tiga
peran pertama dikenal sebagai peran manajer, sedangkan peran keempat disebut
peran teknisi.
Konsep peran public
relations versi Broom memiliki persoalan ketika berhadapan dengan media
baru. Sejauhmana peran public relations
dapat relevan dalam era media baru. Apakah peran penasehat ahli (expert
prescriber) yang dimiliki praktisi akan terbantu dengan penggunaan media
baru. Misalnya mengidentifikasi permasalahan berdasarkan yang disampaikan
publik melalui web site organisasi, email dan media sosial. Pencarian isu-isu
yang terkait organisasi dan scanning lingkungan dapat terbantu dengan mesin
pencari informasi seperti Google dan Yahoo.
Peran yang stratejik memungkinkan penggunaan media
baru secara stratejik. Oleh karena itu praktisi PR yang memiliki peran
stratejik memiliki potensi untuk menggunakan media baru secara stratejik. Peran
penasehat ahli (expert prescriber) yang dimiliki praktisi akan terbantu
dengan penggunaan media baru. Misalnya mengidentifikasi permasalahan
berdasarkan yang disampaikan publik melalui web site organisasi, email dan
media sosial. Pencarian isu-isu yang terkait organisasi dan scanning lingkungan
dapat terbantu dengan mesin pencari informasi seperti Google dan Yahoo.
Kegiatan public relations pada hakikatnya merupakan bagian
dari tehnik kegiatan berkomunikasi dengan ciri khas komunikasi dua arah (two
ways traafic communication) antara lembaga atau organisasi yang diwakilinya
dengan publiknya atau sebaliknya. Setelah melakukan kegiatan komunikasi
tersebut, pihak Public Relations menganalisa untuk mengetahui efeknya atau
feedback, apakan berdampak baik terhadap citra, atau sebaliknya menjadi negatif
sehingga kurang menguntungkan bagi perusahaan atau organisasi yang
bersangkutan.
Sebagai
bagian dari manajemen suatu perusahaan, maka public relations juga memiliki
peranan untuk melakukan komunikasi dua arah timbal balik antara perusahaan
dengan publiknya. Karenanya peranan public relations dalam manajemen suatu
perusahaan terlihat dalam aktivitas pokok public relations yaitu (Ruslan,
2007:24):
PEMBAHASAN
Dalam makalah ini menyajikan studi kasus dalam http://m.prindonesia.co dimana disebutkan bahwa manajemen Bank
Danamon telah meluncurkan laman dan persona media sosial resmi
perusahaan terbaru. Perubahan ini merupakan perjalananan digital dan bentuk
komitmen perusahaan untuk selalu bertransformasi dan beradaptasi menyesuaikan
kebutuhan nasabah dan perkembangan zaman. Khusus pada
laman www.danamon.co.id, perusahaan yang memiliki 1.700 cabang ini membenamkan
sistem dan platformSiteCore dilengkapi fitur-fitur terkini yang
memenuhi semua unsur mobile friendly sejalan dengan slogan
mereka, “Saatnya Pegang Kendali”. Sementara dari sisi media sosial,
Danamon melakukan perampingan dengan menyisakan dua akun dari yang awalnya 23
akun. Yakni, akun Danamon sebagai akun corporate social media di Twitter,
Facebook, Instagram, LinkedIn, dan YouTube. Serta, akun Twitter @HeiloDanamon
untuk layanan nasabah.
Era Digital, Danamon Restrukturisasi
Komunikasi Besar-besaran
Bertempat
di salah satu kafe di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (26/8/2017), Bank Danamon
meluncurkan laman dan persona media sosial resmi perusahaan terbaru. Perubahan
ini merupakan perjalananan digital dan bentuk komitmen perusahaan untuk selalu
bertransformasi dan beradaptasi menyesuaikan kebutuhan nasabah dan perkembangan
zaman.
Ratna
Kartika – 28/09/2017
http://m.prindonesia.co/detail/733/Era-Digital-Danamon-Restrukturisasi-Komunikasi-Besar-besaran
PR Digital Perlu Memperkuat Konten untuk Menjaga Merek
09 November 2017, Ratna Kartika
Potret dinamika dan
besarnya manfaat dari keberadaan media sosial sudah ditangkap Danamon sejak
2015. Restrukturisasi digital besar-besaran dilakukan setahun kemudian. Di
tahun yang sama, perbankan yang berdiri sejak 1956 itu membentuk tim baru di
bawah divisi marketing, yakni Digital & On-line Marketing.
Perubahan antara lain
tampak pada laman resmi dan media sosial. Sementara untuk mempererat hubungan
internal, lahir platform khusus karyawan bernama EAZY. Rangkaian evolusi itu
mereka rangkum dalam Danamon Digital Journey yang dipublikasikan di hadapan
publik di Jakarta, Selasa (26/9/2017).
Menurut Ghandy I.
Sastratenaya, Digital & On-line Marketing Head Group Marketing Danamon,
restrukturisasi mau tidak mau harus dilakukan dengan segera dan cepat jika tak
ingin punah seperti halnya dinosaurus di tengah semakin banyaknya inovasi
teknologi yang menawarkan kemudahan finansial.
Khusus laman www.danamon.co.id,
perusahaan yang memiliki 1.700 cabang ini membenamkan sistem dan platformSiteCore
dilengkapi fitur-fitur terkini yang memenuhi semua unsur mobile
friendly sejalan dengan slogan mereka, “Saatnya Pegang
Kendali”. Sementara dari sisi media sosial, Danamon melakukan perampingan
dengan menyisakan dua akun dari yang awalnya 23 akun. Yakni, akun Danamon
sebagai akun corporate social media di Twitter,
Facebook, Instagram, LinkedIn, dan YouTube. Serta, akun Twitter @HeiloDanamon
untuk layanan nasabah.
Tiap media sosial, kata
Ghandy, memiliki ciri khas sesuai karakteristik masing-masing. Twitter,
misalnya, lebih aktif berkicau saat live event. Facebook membahas
seputar informasi produk dan aktivitas perusahaan dengan gaya bahasa dan
tampilan yang bisa diterima oleh segala lini usia. Sementara Instagram mengupas
produk dan gaya hidup. Tampilannya dibuat lebih segar berisi video dan gambar
bercerita untuk merangkul kaum millennials.
Kanal Baru
Menyadari media sosial
harus kaya konten, ia membagi sepuluh anggotanya menjadi tiga tim. Yakni, tim
konten, tim admin, dan tim yang khusus mengelola komunitas. Setiap minggu
mereka melakukan rapat editorial layaknya tim redaksi untuk merancang konten
selama seminggu ke depan. Konten yang dikembangkan sejalan dengan agenda divisi
produk.
Sejumlah pembagian tugas
dan rencana strategis ini, menurut Ghandy, merupakan bentuk dari komitmen
mereka untuk menambah jumlah engagement. “Sedari awal
mengembangkan medsos, kami berprinsip tidak untuk mencari followers,”
katanya. Tapi untuk menambah engagement juga bukan perkara
mudah. Perlu konten yang kuat, menarik, memuat unsur interaksi dua arah, dan
memastikan reputasi brand tetap terjaga,” katanya.
Intinya, kata Ghandy,
media sosial adalah kanal komunikasi baru bagi Danamon untuk mendengar apa yang
diinginkan oleh nasabah sehingga perusahaan bisa memahami kebutuhan mereka
lebih baik. Konten yang memuat unsur menarik, inspiratif dan edukatif ini
diharapkan dapat menjadi jawaban atas keprihatinan mereka, terutama kepada
generasi millennials. “Kami ingin tiap kali millennials bicara
soal uang, yang ada di pikiran mereka bukan hanya tentang travelling,
tapi juga saving money,” pungkasnya. rtn
http://www.prindonesia.co/detail/768/PR-Digital-Perlu-Memperkuat-Konten-untuk-Menjaga-Merek
Di Indonesia akses internet meningkat sejalan dengan
perkembangan infrastruktur komunikasi, termasuk pedesaan. Demografi pengguna
Internet tahun 2015 (sumber APJII 2015) menunjukkan angka hampir 100 juta
pengguna, artinya mendekati separuh penduduk Indonesia sudah mengenal internet.
Sedangkan hasil riset demografi APJII pada tahun 2016 pengguna Internet di
Indonesia telah mencapai 132,7 juta (51,8 %) dari total populasi penduduk Indonesia
yang mencapai 256 juta. Akses internet pada tahun 2016 masih didominasi
perangkat bergerak (internet mobile) sebanyak 69 persen (92,8 juta pengguna)
disusul oleh internet rumah 13,3 persen (17,7 pengguna), fasilitas internet
kantor 11,2 persen (14,9 juta pengguna) dan sisanya menggunakan internet
kampus, kafe hingga warnet. Penyebaran pengguna internet di Indonesia masih tertinggi
di pulau Jawa sebesar 65 persen (86,3 juta orang) disusul Sumatra (15,7 %),
Sulawesi (6,3%), Kalimantan (5,8 %), Bali dan Lombok (4,7%), Maluku dan terakhir
Papua (2,5%).
Dalam
perusahaan, istilah komunikasi perusahaan digunakan untuk menggambarkan empat
aspek komunikasi yang berbeda (Argenti & Forman, 2002): Ini mungkin
menggambarkan sebuah fungsi, seperti pemasaran atau operasi; saluran
komunikasi; sebuah proses komunikasi; atau sikap atau set keyakinan. Fungsi komunikasi
korporat perusahaan bertanggung jawab atas komunikasi dengan konstituen
internal dan eksternal.
Membahas apa yang telah dilakukan oleh manajemen
Bank Danamon sangat penting terkait penggunaan media baru dalam public relation (www.prindonesia.co). Hal ini mengingat terdapat kompleksitas
fenomena penggunaan media baru pada praktisi public relations.
Penggunaan analisis peran praktisi PR menjadi perhatian dari para peneliti. Sha
dan dozier pada tahun 2012 (Lee, 2013) mengadakan penelitian mengenai penggunaan
media sosial yang dikaitkan dengan peran praktisi PR dengan instrumen peran
public relations versi Broom. Mendasarkan pada peran PR versi Broom, Sha dan Dozier
mengkaitkan penggunaan media baru untuk scanning lingkungan pada responden
manajer. Untuk praktisi, diteliti penggunaan media sosial untuk penyebaran
pesan. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa item-item dalam sosial
media disebabkan faktor ketiga diluar ukuran-ukuran peran manajer dan teknisi.
Sha dan Dozier (Lee, 2013) menyimpulkan bahwa peran PR dalam menggunakan media
sosial menurut Dozier tidak dapat dipandang sebagai role enacetment,
tetapi merupakan konsekuensi dari role enactment.
Dalam konteks ini penggunaan media tidak terkait
langsung dengan peran yang melekat pada status praktisi, tetapi lebih pada
konsekuensi dari peran tersebut. Konsekuensi tidak bisa dikatakan mutlak,
karena tergantung dari implementasi dan sesuai konteksnya. Para manajer
memiliki peluang menggunakan konsekuensi perannya maupun tidak. Demikian pula
para staf dapat menggunakan kosekuensinya atau tidak, tergantung pada situasi
dan kondisi yang sesuai pada masing-masing organisasi.
Lee (2013) dalam penelitiannya, mencoba menggunakan
4 tipologi peran praktisi dalam media sosial. Menurut Lee (2013) terdapat 4
kategori peran dalam media sosial yaitu yaitu: social media for one-way
message dissemination, social media for non-Aligned Purposes, dialogic social
media, dan utilization social media for organizational change. Peran
social media for one-way message dissemination memiliki makna yaitu
praktisi yang berperan menyebarkan pesan secara searah. Peran ini meskipun
dalam konteks media baru masih memiliki relevansi dengan model searah (one way)
Grunig yaitu press agentry atau model publisitas. Peran kedua yaitu social
media for non-Aligned Purposes. Peran dalam hal ini memiliki makna yaitu
ketika praktik media sosial dan tujuan tidak terhubung maka organisasi akan
hadir dalam media sosial. Peran ketiga yaitu dialogic social media yaitu
penggunaan media sosial untuk memfasilitasi percakapan yang terbuka antara
organisasi dan publik sebagaimana antar publik. Peran keempat yaitu peran
praktisi media sosial untuk perubahan organisasi dalam upaya untuk menginformasikan
pembuatan keputusan yang stratejik.
Fungsi public relations menurut Cutlip,
Center, dan Broom (Putra, 1999) dibedakan atas 2 jenis, yaitu fungsi manajemen
dan fungsi komunikasi. Praktisi yang menjalankan fungsi manajemen bertugas
menyusun kebijakan, dan bertanggungjawab terhadap konsekuensi yang muncul.
Dalam konteks fungsi manajemen menurut Putra (1999), praktisi public
relations berperan menjadi penasehat manajemen dalam mengambil kebijakan
yang tepat dan diterima publik. Dalam konteks fungsi komunikasi, public
relations menurut Putra (1999) adalah staf khusus yang melayani para
pemimpin organisasi, khususnya membantu dalam berkomunikasi dengan publik.
Penggunaan media baru sebagai pelaksanaan fungsi public
relations dapat dilihat pada dua perspektif. Pertama, melihat penggunaan
media baru sebagai pelaksanaan fungsi public relations (tidak menjadi
subordinasi fungsi manajemen yang lain). Kedua, melihat penggunaan media baru
sebagai pelaksanaan fungsi public relations yang mendukung fungsi
manajemen yang lain misalnya marketing. Integrasi marketing dan public
relations dapat dilihat pada beberapa bagian dari pola-pola relasi marketing
dan public relations yang dikemukakan oleh Kotler and Mindak (Grunig dkk: 2002)
sebagai berikut:
1) Public
relations dan marketing dipisahkan tetapi memiliki
fungsi yang setara. Public relations dan Marketing memiliki fungsi, perspektif,
dan kapabilitas yang berbeda.
2) Public
relations dan marketing setara namun memiliki
fungsi yang tumpang tindih. Pada satu sisi keduanya berbagi area kerja misalnya
untuk publisitas produk dan hubungan dengan pelanggan. Pada sisi yang lain
public relations berperan sebagai watchdog pada konteks tanggung jawab sosial dari
marketing.
3) Marketing
sebagai fungsi yang dominan. Fungsi public
relations menjadi bagian dari marketing. Marketing mengelola hubungan
dengan semua publik sebagaimana mengembangkan hubungan dengan pelanggan.
4) Public
relations sebagai fungsi yang dominan. Public
relations mengembangkan hubungan dengan semua publik dan mengembangkan hubungan
dengan pelanggan. Marketing menjadi subordinasi public relations.
5) Marketing
dan public relations memiliki fungsi yang sama. Marketing dan public
relations menyatu dalam konsep dan metodologi dan berada pada satu departemen
untuk mengatur urusan eksternal organisasi.
Grunig dan Hunt (1984) mengemukakan model public relations antara lain model press
agentry, public information, two way asymmetrics, dan two way symmetrics.
Model press agentry sebagaimana dijelaskan dalam Putra (1999) menekankan
pada tujuan-tujuan memperoleh publisitas media massa yang menguntungkan
organisasi. Pada era media baru, publisitas dapat menggunakan media on-line.
Organisasi dapat mempublikasikan melalui laman-laman web berkonten berita,
blog, media sosial, maupun web site organisasi.
Model public information menurut Grunig dan
Hunt (Putra, 1999) menekankan penyebaran informasi kepada publik. Model ini
sering dijuluki jurnalist in residence. Grunig dan Hunt (1992)
menyatakan bahwa model informasi publik lebih menekankan pada penulisan hal-hal
yang bagus tentang organisasi, namun kurang memperhatikan sisi kebenaran dan
akurasi. Model press agentry dan public informations cenderung
bersifat searah, yaitu penyampaian informasi dari organisasi ke publik.
Model public relations berikutnya bersifat
dua arah, yaitu two way asymmetrics, dan two way symmetric. Model
dua arah asimetris dalam Putra (1999) menekankan penggunaan riset untuk
pengembangan pesan-pesan persuasi dalam mempengaruhi publik agar berpikir, bersikap,
dan bertindak sesuai harapan organisasi. Model dua arah asimetris dikenal juga
sebagai persuasi ilmiah. Model two way symmetric dalam Putra (1999)
menggunakan penelitian dan komunikasi untuk mengelola konflik dan meningkatkan
pemahaman terhadap publik stratejik. Model ini menekankan perubahan perilaku
organisasi untuk merespon tuntutan publik. Model dua arah simetris menekankan
prinsip obyektif daripada persuasi.
Menurut Grunig (2009), media baru memiliki
perangkat-perangkat yang bersifat dialogic, interaktif, dan global yang
mendukung paradigma manajemen stratejik public relations. Namun
penggunaan media baru yang masih menggunakan cara lama menjadikan penggunaan
media baru menjadi belum optimal. Misalnya penggunaan media baru seperti web
site, dan email untuk menampung dan menyebarkan informasi (Grunig, 2009). Penggunaan
media baru dapat dijelaskan dalam model public relations (Grunig, 2009),
misalnya web site organisasi yang menggunakan model statis cenderung
pada model propaganda (press agentry). Web site yang diperbaharui kontennya
secara berkala cenderung pada model informasi publik. Blog yang difasilitasi
perangkat untuk berkomentar cenderung pada model two-way asymmetric.
Situs media sosial yang terbuka dan komunitas online interaktif lebih cenderung
pada model two way symmetric.
Kelleher (2001) dalam penelitiannya menemukan bahwa
penggunaan email pada manajer dan teknisi yang diteliti tidak menunjukan
perbedaan yang signifikan. Diga dan Kelleher (2009) dalam penelitiannya
menemukan bahwa praktisi public relations baik manajer maupun teknisi
tidak memiliki perbedaan yang signifikan mengenai frekuensi penggunaan situs
jejaring sosial dan media sosial. Melalui penggunaan situs jejaring sosial
praktisi yang diteliti merasa mendapatkan structural power, expert power, dan
prestige power. Penggunaan media baru di kalangan praktisi manajer dan
staf tidak terbatas pada penggunaan yang bersifat teknis saja. Penggunaan media
baru memungkinkan manajer public relations menggunakan perannya. Salah
satu cara yang bisa digunakan yaitu menggunakan cyberbridging. Kornegay
dan Grunig (1998) mengemukakan dengan menggunakan website organisasi,
manajer public relations dapat melakukan scanning lingkungan, memperoleh
kekuasaan, berhubungan dengan pemegang kekusaan yang diistilahkan koalisi
dominan, dan memiliki andil dalam proses pengambilan keputusan.
Penggunaan media baru yang bersifat stratejik yang
pernah diteliti yaitu penggunaan web site organisasi untuk menjembatani
komunikasi organisasi dan publik dan penyediaan informasi bagi publik (Galih,
2013; Yazid, 2012). Melalui web site organisasi, publik dapat
menyampaikan keluhan atau permasalahan kemudian public relations meneruskannya
kepada pihak yang bertanggungjawab terhadap masalah tersebut. Setelah ada pemecahan
masalah, praktisi public relations menyampaikan jawaban permasalahan
melalui web site organisasi. Penggunaan media baru seperti web site dalam
aktivitas public relations tersebut masih didominasi untuk kepentingan
teknis terutama untuk menjalankan peran teknisi komunikasi.
Penggunaan media baru dalam aktivitas public
relations memiliki orientasi berdasarkan model public relations yang
dikembangkan dalam organisasi. Setiap implementasi model public relations pada
media baru memiliki konsekuensi yang berbeda. Penggunaan media baru dapat
dijelaskan dalam model public relations (Grunig, 2009), misalnya web site organisasi
yang menggunakan model statis cenderung pada model propaganda (press
agentry). Web site yang diperbaharui kontennya secara berkala cenderung
pada model informasi publik. Blog yang difasilitasi perangkat untuk berkomentar
cenderung pada model two-way asymmetric. Situs media sosial yang terbuka
dan komunitas online interaktif lebih cenderung pada model two way
symmetric. Setiap praktisi public relations organisasi secara umum dapat mengaplikasikan
4 model public relations ketika menggunakan media baru.
Namun aplikasi model public relations melalui penggunaan media baru memiliki konsekuensi
bagi kepentingan organisasi dan publik. Dalam konteks untuk mendapatkan
publisitas dan penyediaan informasi yang optimal, media baru dapat digunakan
untuk menyebarkan dan menyediakan informasi. Dalam konteks mencapai kualitas
hubungan organisasi dan publik, maka model PR yang sesuai untuk diaplikasikan
melalui media baru yaitu model komunikasi dua arah simetris.
Bank Danamon menjalin hubungan dengan stakeholder/nasabah
yang diantaranya adalah generasi milenial dengan strategi pengembangan hubungan
melalui media baru dapat dilakukan dengan model dua arah dan dialogis. Generasi
milenial dalam kesaharian menggunakan media baru melalui perangkat komputer dan
smartphone yang tersambung internet. Oleh
karenanya strategi pengembangan hubungan organisasi dan publik dapat dilakukan
melalui media baru atau internet (Men, 2012) yaitu: pertama, strategi
keterbukaan (disclosure/openness); Kedua, diseminasi informasi; Ketiga,
yaitu interaktivitas dan keterlibatan. Keterbukaan memiliki substansi yaitu
kemauan organisasi untuk berhubungan secara langsung dan membuka dialog dengan
publik. Keterbukaan dalam media baru dapat ditampilkan dengan memberikan
deskripsi mengenai profil organisasi. Diseminasi informasi dilakukan dengan
memperhatikan kebutuhan dan minat publik mengenai informasi organisasi.
Sedangkan interaktivitas dan keterlibatan menyangkut bagaimana publik dapat
mudah berinteraksi secara online dan terlibat dalam mengomentari sebuah isu dan
berdialog melalui media baru dengan organisasi.
Seo, Kim, dan Yang (2009) dalam penelitianya tentang
penggunaan media baru pada organisasi-organisasi non pemerintah (NGO)
transnasional menemukan bahwa fungsi media baru (new media) yang
siginifikan bagi NGO adalah mempromosikan image organisasi dan
penggalangan dana. Dalam penelitian tersebut tujuan organisasi dan kapasitas
organisasi dalam menggunakan media baru dapat diprediksi secara signifikan.
Organisasi menggunakan web site untuk mempromosikan image organisasi dan
penggalangan dana, serta menggunakan blog untuk melakukan advokasi terhadap
organisasi. Penggunaan web site tersebut lebih sesuai dengan model dua
arah asimetris. Dalam penelitiannya Jo dan Jung (2005) menyatakan bahwa hasil penelitian
mengenai web site perusahaan di Amerika Serikat dan Korea Selatan menunjukkan
hal yang sama yaitu cenderung mendekati model press agentry.
Selain itu Perusahaan Amerika serikat menggunakan
model public information dibandingkan perusahaan Korea Selatan. Untuk
model dua arah perusahaan Amerika serikat dan Korea sama-sama tidak ditemukan
hal yang signifikan. Menurut Grunig (2009), media baru memiliki
perangkat-perangkat yang bersifat dialogic, interaktif, dan global yang
mendukung pendekatan manajemen stratejik public relations. Namun
penggunaan media baru yang masih menggunakan cara lama menjadikan penggunaan
media baru menjadi belum optimal. Misalnya penggunaan media baru seperti web
site, dan email untuk menampung dan menyebarkan informasi (Grunig, 2009).
Bank Danamon telah menerapkan public relation digital melalui web www.danamon.co.id Kehadiran
media baru memiliki relevansi dengan munculnya konsep public relations 2.0
(e-PR). Media baru yang pada awal kehadirannya hanya cenderung menggunakan pola
komunikasi searah, saat ini telah menyediakan fasilitas komunikasi dua arah.
Kegiatan public relations yang bersifat dua arah dapat dilakukan dengan
berbagai macam pilihan media, yaitu melalui website organisasi, situs
jejaring sosial, blog, dan email.
Web site dapat
digunakan sebagai media bagi organisasi untuk membangun hubungan dengan publik
(Vorvoreanu, 2008:54). Website juga dapat digunakan organisasi untuk membangun
dialog dengan publik. Kent dan Taylor (1998) berpendapat bahwa web site dapat
digunakan untuk menciptakan dan memperbaiki hubungan organisasi dan publik
melalui dialog. Melalui website, organisasi dan publik dapat berdiskusi
mengenai isu sosial yang terkait. Menurut Heath (1998) isu sosial yang terjadi
dapat menimbulkan hubungan yang tidak menguntungkan antara organisasi dan
aktivis. Oleh karena itu web site organisasi dapat menjadi media bagi
perusahaan/organisasi untuk berdialog dengan publik. Dalam penelitian Jo dan
Kim (2003) menunjukkan bahwa web site organisasi dapat mempengaruhi
persepsi mengenai hubungan organisasi dan publik.
Bank danamon telah menggunakan media baru dalam
komunikasi korporat perusahaan bertanggung jawab atas komunikasi dengan
konstituen internal dan eksternal. Ini melibatkan sejumlah subfungsi, seperti
hubungan media, hubungan investor, komunikasi internal atau karyawan, hubungan
pemerintah atau urusan publik, hubungan masyarakat, filantropi perusahaan,
reputasi perusahaan, dan komunikasi pemasaran. Saluran komunikasi perusahaan
tidak hanya mencakup materi cetak tapi juga informasi yang diposting di situs
Web dan blog perusahaan. Proses komunikasi melibatkan gaya komunikasi, termasuk
nada dan timing. Beberapa organisasi, misalnya, dapat menggunakan gaya yang
sangat formal dan birokratis, sedangkan yang lain lebih suka gaya informal yang
memfasilitasi dialog bebas mengalir antara manajer senior dan karyawan,
pelanggan, analis, dan konstituen lainnya. Akhirnya, komunikasi korporat juga
merupakan sikap atau rangkaian kepercayaan yang dimiliki orang tentang apa dan
bagaimana berkomunikasi dan nilai inheren dari upaya komunikasi semacam itu.
Untuk memanfaatkan kekuatan media sosial untuk
tujuan membangun merek (Costantinides & Fountain, 2008; Wright, 2006), yang
pertama-tama memahami dinamika fungsional mereka secara khusus. Pendekatan
berikut adalah sebagai berikut:
§ Menggunakan media sosial yang ada dalam program
hubungan masyarakat untuk menjangkau opini online baru, seperti blogger dan
podcaster, dan menginformasikan mereka tentang produk dan layanan, inisiatif
masyarakat, atau inovasi;
§ Menggunakan media sosial untuk mendengarkan suara para
pemangku kepentingan dalam diskusi yang berfokus pada topik yang relevan dengan
perusahaan;
§ Memulai platform interaktif langsung, memberi mereka
masukan dari karyawan dan manajer, dan menggunakan bentuk komunikasi
satu-ke-satu dan banyak-ke-banyak ini untuk membangun, memelihara, dan
memperkuat hubungan, citra, dan reputasi.
Dalam
interaktif PR digital, khalayak atau masyarakat tidak hanya selalu melihat
informasi yang disuguhkan oleh perusahaan, tetapi bisa turut aktif
berkomunikasi, berkomentar menyampaikan pendapatnya terkait informasi yang
diberikan oleh pihak perusahaan tersebut. Komunikasi yang terjalin lebih
interaktif tentu akan menyenangkan, baik untuk khalayak sasaran maupun pihak PR
perusahaan sendiri. Dengan adanya komunikasi interaktif, maka pihak perusahaan
sudah dapat menciptakan citra yang baik dihadapan khalayak konsumen.
PENUTUP
Fungsi Public Relations dasarnya adalah sebagai penghubung komunikasi
antara publik dengan perusahaan/organisasi, serta membangun relasi kepada
khalayaknya dengan tujuan terbangunnya citra yang baik terhadap suatu
perusahaan/organisasi dengan menggunakan segala media yang dianggap sesuai
dengan khalayaknya dalam menyampaikan informasi atau pesan yang akan dituju. Hadirnya
teknologi informasi, maka dikenal e-PR yang memanfaatkan media baru dalam
penyebaran dan melakukan informasi secara efektif dan efisien menggunakan
internet. PR harus dapat melihat karakteristik perusahaan dan karakteristik
khalayak, juga pesan dan hasil yang ingin dicapai, setelah itu barulah dapat
memilih yang mana yang lebih cocok dalam pelaksanaan program–program tersebut. Public Relations Konvensional atau Cyber Public Relations (e-PR). Kegiatan
yang dilakukan oleh e-PR dan PR Konvensional adalah sama yaitu sama-sama
mengkomunikasikan dan menyebarluaskan informasi dari suatu perusahaan kepada
public, hanya saja yang membedakannya adalah sarana yang dipakai oleh e-PR dan
PR konvensional.
Kehadiran
teknologi komunikasi dan konvergensi media dengan adanya internet mempunyai
implikasi pada manajemen komunikasi korporasi/organisasi. Banyak peluang baru
yang muncul dengan kehadiran media baru terkait dengan bagaimana manager
komunikasi berhubungan dengan pemangku kepentingan internal maupun eksternal serta beragam media baru yang digunakan. Model-model
komunikasi korporat yang selama ini cenderung bersifat searah sesuai dengan
karakter pokok media konvensional perlu menyesuaikan dengan media baru/media
sosial yang di samping cenderung bersifat interaktif, pesan yang mudah viral
dan dalam beberapa hal sangat disruptif.
Karenanya peranan komunikasi sangatlah penting, internet
jika diolah dengan proses komunikasi yang benar dan tepat, akan menghasilkan
suatu produk yang sangat efektif dalam menjangkau khalayak. PR Bank Danamon
memanfaatkan teknologi internet untuk menjalin hubungan komunikasi dengan
khalayak publiknya. Bank
Danamon telah menerapkan public relation
digital melalui web www.danamon.co.id Kehadiran media baru memiliki relevansi
dengan munculnya konsep public relations 2.0 (e-PR). Media baru yang pada awal
kehadirannya hanya cenderung menggunakan pola komunikasi searah, saat ini telah
menyediakan fasilitas komunikasi dua arah. Kegiatan public relations yang
bersifat dua arah dapat dilakukan dengan berbagai macam pilihan media, yaitu
melalui website organisasi, situs jejaring sosial, blog, dan email.
Untuk publik eksternal
(stakeholder) menggunakan
sistem dan platform baru bernama SiteCore--sistem manajemen konten ternama di
industri pengembangan website--pada laman terbaru
www.danamon.co.id. Situs terbaru ini dilengkapi dengan fitur terkini, salah
satunya Maps Locater yang memudahkan nasabah menemukan lokasi bank atau
ATM terdekat. Selain itu, memenuhi unsur mobile friendly karena
mudah diakses melalui smart phone, tablet, laptop, maupun layar
komputer. Desainnya responsif, terdapat quick sticky menu, swap and
scroll, sistem navigasi informasi produk yang berorientasi terhadap
keinginan atau relevansi nasabah, hingga simulasi produk. Memanfaatkan
kekuatan media sosial untuk tujuan membangun merek, program hubungan masyarakat
untuk menjangkau opini online baru, seperti blogger dan podcaster, dan
menginformasikan mereka tentang produk dan layanan, inisiatif masyarakat, atau
inovasi, mendengarkan suara para pemangku kepentingan dalam diskusi yang
berfokus pada topik yang relevan dengan perusahaan. Disamping itu kekuatan
media baru bisa digunakan untuk membangun, memelihara, dan memperkuat hubungan,
citra, dan reputasi.
DAFTAR
PUSTAKA
Buku/artikel
Abrar,
Ana Nadya. (2003). Teknologi Komunikasi:
Perspektif Ilmu Komunikasi. LESFI. Yogyakarta.
Argenti, A.
Paul. (2009). Komunikasi Korporat.
Penerbit Salemba Humanika. Jakarta
Argenti, Paul A (2006). ’How Technology Has Influenced the Field of Corporate Communication’.
Journal of Businnes and Technical Communication/ Vol. 20 No 3 July.
357-370
Bernays, Edward. L. (2002). Public Relations. Kesingger Publishing, LLC
Cho, Moonhe, Furey, Lauren D., Mohr, Tiffany (2017). ’Communicating Corporate Social
Responsibility on Social Media: Strategies. Stakeholders, and Public Engagement
on Corporate Facebook’, Business and Professional Quaterly. Vol. 80 (I)
52-69.
Chong, Mark. (2006).
The role of internal communication and
training in infusing corporate
values and delivering brand promise: Singapore Airlines’ Experience
Christensen, Lars Thoger & Cornelissen, Joep (2011).
’Bridging Corporate and Organizational
Communication: Review, Development and a Look to the Future.
Cutlip, Scott M. Allen H, Center. Broom, Glen M. (2005).
Effective Public Relations. Edisi 8.
Jakarta: PT Indeks Kelompok Gramedia
Grunig,
James E. (2009). "Paradigms of global public relations in an age of
digitalisation." PRism 6.2 (2009): 1-19.
Jefkins, & Yadin. (2003). Public
Relations. Edisi kelima Jakarta: Penerbit Erlangga
Kotler, Philip and Gary Armstrong, (2008). Prinsip-Prinsip Pemasaran. Edisi 12. Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Lee, Nicole
Marie. (2013). The role of new public relations practioners as social media
expert. A thesis. San Diego State University
Marsefio
S. Luhukay, (2008). Penerapan Manajemen
Krisis di Indonesia. Jurnal Ilmiah Scriptura, Vol. 2, No. 1, 19.
Mayer, Frank C. (1970).
Internal Communication. The Clearing House Vol. 44 No. 5 (Jan. 1970) pp. 290-295
McQuail, Denis. (2010).
Mass Communication Theory. Sixth Edition. London: Sage. /Penerjemah
Putri Iva Izzati. 2011. Jakarta. Salemba Humanika.
Putra, I Gusti. (1999).
Manajemen Hubungan Masyarakat. Yogyakarta: Penerbit Universitas Atmajaya
Putra, I Gusti. (2009).
Paradigma Public Relations, Kontribusinya bagi Organisasi dan Tantangan ke
depan dalam Public Relations dan Corporate Social Responsibility. Editor
Aswad Ishak dan Setio Budi H. Penerbit Aspikom
Ralph Currier David dan Allan C. Filley, (1973). Principle of Management, Penerbit: Alexander Hamilton Institute.
New York.
Rogers, Everett
M. (1986). Communication technology : the new media in society. Free
Press ; London : Collier Macmillan, New York
Ruslan, Rosady. (2004) Metode
Penelitian: Public Relation dan Komunikasi. Penerbit: PT. Raja Grafindo
Perkasa. Jakarta
Siagian, S.P. (2006).
Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.
Soemirat, Soleh & Ardianto, Elvinaro. (2007), Dasar-Dasar Public Relations, Bandung, Rosdakarya.
Vernuccio, Maria (2014). ’Communicating Corporate Brands Through Social Media: An Exploratory
Study. International Journal of Business Communication. Vol 51 (3) 211-233
Vorvoreanu, M.
(2008). Web site public relations: How corporations build and maintain
relationships online. Cambria Press.
Situs online:
http://m.prindonesia.co
Tesis
Anwar, Rofiq. (2014). Penggunaan
Media Baru Oleh Praktisi Public
Relations di Organisasi Profit
dan Non Profit di Yogyakarta. Tesis UGM.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar