Senin, 03 September 2018


PUBLIC RELATION DI TENGAH PERKEMBANGAN MEDIA BARU

Sahuri
Program S2 Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Email : huri.adam@gmail.com


Abstrak

Makalah ini akan mendiskusikan isu-isu teknologi komunikasi dan konvergensi media dengan berkembangnya media baru (new media) yang memberikan implikasi terhadap manajemen komunikasi korporasi/organisasi khususnya Public Relations. Public Relations adalah  fungsi manajemen yang membangun dan mempertahankan hubungan  yang baik dan bermanfaat antara organisasi dengan publik yang mempengaruhi kesuksesan atau kegagalan organisasi tersebut. Media baru memiliki potensi untuk digunakan secara searah (one way) dan dua arah (two way). Kemudian muncul istilah e-PR yang memanfaatkan new media  antara lain web dan media sosial. Dengan mengambil studi kasus Bank Danamon  dalam situs http://m.prindonesia.co dimana manajemen  memanfaatkan web dan media sosial  untuk menjalin hubungan dengan pihak eksternal dan internal. Kekuatan media baru bisa digunakan untuk membangun, memelihara, dan memperkuat hubungan, citra, dan reputasi.

Kata Kunci : Media baru (new media), Public relations, Reputasi



PENDAHULUAN

Kehadiran teknologi komunikasi dan konvergensi media dengan berkembangnya media baru (new media) memberikan implikasi dalam berbagai bidang termasuk manajemen komunikasi korporasi/organisasi khususnya public relations. Penggunaan media baru untuk organisasi bukan tanpa alasan. Media baru memiliki kelebihan dibandingkan dengan media lama, yaitu menyediakan fasilitas interaksi antar pengguna yang bersifat tekstual, audio, dan audio visual, serta menembus batas ruang dan waktu. Kelebihan dan nilai tambah yang dimiliki media baru tersebut kemudian digunakan organisasi-organisasi untuk menyelenggarakan program dan kegiatannya. Organisasi-organisasi pemerintah maupun swasta secara umum telah banyak yang memiliki website organisasi. Bahkan beberapa organisasi sudah menggunakan media sosial seperti facebook, twitter, blog, dan sejenisnya.
Tantangan bagi organisasi di dalam era media baru adalah beradaptasi dengan lingkungan. Beradaptasi pengertiannya tidak sekedar menyesuaikan dengan lingkungan sosial yang dapat dijangkau secara fisik, namun juga dengan lingkungan yang bersifat virtual. Lingkungan yang bersifat virtual memiliki arti penting karena ini menjadi penghubung pada realitas fisik. Pengaduan permasalahan melalui media baru merupakan contoh bahwa realitas virtual menjadi instrumen penghubung realitas nyata. Organisasi dihadapkan pada pilihan untuk memilih sistem terbuka atau tertutup dengan segala konsekuensi. Sistem tertutup membuat organisasi tidak dapat beradaptasi dengan dinamika lingkungan. Dalam lingkungan virtual, penyebaran pesan menjadi tidak terkendali sehingga mustahil bagi organisasi mengendalikan pergerakan pesan. Organisasi dapat memilih sitem terbuka dengan konsekuensi harus mampu menyiapkan diri untuk berkomunikasi dua arah dengan publik.
Organisasi profit maupun non profit baik swasta maupun pemerintah secara umum telah menggunakan media baru sesuai dengan kepentingan masing-masing. Hal ini ditandai dengan pemanfaatan web site dan media sosial yang semakin meningkat di seluruh dunia. Media baru memiliki potensi untuk digunakan secara searah (one way) dan dua arah (two way). Jika penggunaan media baru masih menggunakan pola searah maka tidak berbeda dengan penggunaan media lama. Hal ini dapat dilihat dari karakter media lama seperti radio, televisi, suratkabar, majalah yang cenderung berpola searah dalam proses komunikasi. Karakter ideal media baru lebih dekat dengan karakter ideal public relations model dua arah (two way) terutama dua arah yang simetris (two way symmetric).
Everett M. Rogers dalam Abrar (2003: 17-18) merangkumkan perkembangan media komunikasi ke dalam empat era, yaitu: Pertama era komunikasi tulisan; Kedua era komunikasi cetak; Ketiga era telekomunikasi, dan; Keempat era komunikasi interaktif. Teknologi media baru mengalami perkembangan, dari yang menopang komunikasi searah menjadi dua arah. Namun hal tersebut tidak serta merta dapat diaplikasikan oleh organisasi. Media baru dapat menampung segala keluhan atau permasalahan dari publik, namun jika tidak diimbangi kemampuan untuk menjawab persoalan dengan cepat maka komunikasi dua arah tidak dapat berlangsung dengan optimal. Penggunaan media baru dalam aktivitas public relations dengan pola dua arah juga memerlukan intensitas waktu yang terjadwal/rutin. Hal ini karena interaktivitas antara organisasi dan publik memerlukan intensitas waktu yang cukup. Penggunaan media baru secara tidak terjadwal menunjukan ketidakseriusan dalam menggunakan media baru. Hal tersebut juga dimungkinkan karena ketidaksiapan sumber daya manusia, dan ketiaksiapan manajemen mengelola media baru dengan model komunikasi dua arah. Komunikasi searah dalam media baru menjadi lebih mudah karena dapat diaplikasikan tanpa ada situasi “deadline” seperti media massa.
Media baru memiliki beberapa variasi jenis, namun yang lebih dikenal penggunaannya untuk organisasi yaitu media sosial dan web site organisasi, dan email. Media sosial sendiri memiliki variasi yaitu yang sering dipakai organisasi dan atau personal. Situs jejaring sosial (social networking site) seperti facebook dan twitter merupakan media sosial yang biasa dipakai untuk kepetingan individu maupun organisasi. Dalam facebook dan twitter memungkinkan penggunanya menggunakan akun organisasi maupun akun individu.
Setiap perusahaan/organisasi pada umumnya telah banyak yang memiliki web site organisasi dengan berbagai variasi penggunaannya. Termasuk bank Danamon, Web site pada mulanya bersifat statis yang diperbaharui secara berkala sehingga hanya untuk menyebarkan informasi berupa profil perusahaan. Dalam perkembangannya, teknologi web memungkinkan untuk komunikasi dua arah secara interaktif sesuai kapasitas yang dimiliki. Namun demikian tidak setiap organisasi/perusahaan menggunakan web site secara interaktif. Pandangan bahwa web site sebagai pelengkap menjadikan web site organisasi tetap bersifat statis. Selain itu, budaya birokrasi organisasi yang tidak siap menghadapi interaktivitas media baru yang cepat, menyebabkan keluhan-keluhan publik yang disampaikan melalui web site organisasi menjadi tidak terjawab dan tertangani dengan cepat.


TINJAUAN PUSTAKA

Media Baru (New Media)
Media baru memiliki kelebihan dibandingkan dengan media lama, yaitu menyediakan fasilitas komunikasi dua arah, baik secara tekstual, maupun audio visual dengan jangkauan seluruh dunia yang terhubung dengan internet, dengan waktu yang relatif cepat sesuai kapasitas kecepatan jaringan. Bentuk media baru sebagaimana dikemukakan Flew (2005) memiliki tiga bentuk, yaitu teknologi informasi dan komputer, jaringan komunikasi, dan digitalisasi media dan konten informasi. Fasilitas yang canggih tersebut dapat diadopsi organsisasi terutama untuk pengembangan dan optimalisasi fungsi-fungsi tertentu, misalnya pelayanan publik, pemasaran, mengembangkan hubungan dengan publik, dan transaparansi organisasi.
            Karakteristik media baru sebagaimana dijelaskan Rogers (1986) memiliki 3 ciri, yaitu interactivity, demassification, dan asynchronous. Interactivity memiliki makna terjadi komunikasi dua arah dimana masing-masing pengguna dapat berperan sebagai pengirim dan penerima pesan dan menembus batas ruang dan waktu. Demassification memiliki makna control pesan berada pada individu pengguna. Asynchronous memiliki makna pesan dapat dipertukarkan dengan cepat.
Media baru (new media) dapat dikategorikan berdasarkan kesamaan saluran dan kedekatan tipe penggunaan, konten, dan konteks sebagai interpersonal communication media, interactive play media, information search media, dan collective participatory media (McQuail, 2010:156). Sebagai media komunikasi interpersonal, media baru memberikan akses kepada individu untuk berkomunikasi dengan individu yang lain melalui ponsel (mobile phone), dan berkirim surat via email. Dalam konteks sebagai interactive play media, media baru memiliki basis pada komputer, video games, dan perangkat-perangkat virtual (virtual reality device). Media baru menyediakan fasilitas interaktif terutama melalui permainan permainan online. Dalam konteks sebagai information search media, media baru memberikan akses seluas-luasnya kepada individu untuk mengakses informasi dalam format teks, audio, audio visual, bahkan animasi. Dalam konteks sebagai collective participatory media, media baru memberikan ruang untuk individu berbagi dan bertukar informasi, ide-ide, pengalaman, dan menjalin hubungan (relationship) secara personal.
Perbedaan mendasar media baru dan media lama menurut Mcquail (2010 : 157) dilihat dari perspektif pengguna sebagai berikut:
§  Media baru memiliki interactivity, yaitu komunikasi dua arah antar pengguna.
§  Media baru memberikan fasilitas social presence meskipun bersifat virtual.
§  Media baru dalam konteks media richness dapat menjembatani perbedaan kerangka referensi, mengurangi ambiguitas, menyediakan lebih banyak tanda (cues) melibatkan kepekaan dan lebih personal.
§  Media baru memberikan autonomy, yaitu pengguna dapat mengendalikan isi dan penggunaan, dan independen terhadap sumber.
§  Media baru menawarkan aspek playfulness yaitu unsur hiburan dan kesenangan, tidak sekedar penggunaan instrumen (alat).
§  Media baru memberikan privacy kepada pengguna untuk menggunakan jenis konten tertentu.
§  Media baru menawarkan personalization yaitu konten dan penggunaan media yang bersifat personal.

Public Relations Organisasi/Korporat
Menurut Kotler dan Armstrong (2008: 117), ”Public Relations (hubungan masyarakat) ialah membangun hubungan baik dengan berbagai kalangan untuk mendapatkan publisitas yang diinginkan, membangun citra perusahaan yang baik, dan menangani atau menghadapi rumor, berita, dan kejadian tidak menyenangkan”.
Menurut Marsefio S. Luhukay dalam Jurnal Scriptura (2008: 19) Public Relations (PR) hadir sebagai suatu kebutuhan, kebutuhan untuk menjembatani organisasi dengan para pemangku kepentingan (stakeholders). Jembatan yang dibangun PR bukanlah jembatan keledai, tetapi jembatan yang sungguh-sungguh kokoh, berdiri atas dasar Trust, Honest, dan Credibility. Public Relations ada, karena ada kepercayaan. Artinya masyarakat percaya pada organisasi dan organisasi percaya pada masyarakat atas dasar saling pengertian dan win-win solution. PR membangun citra dan reputasi organisasi lewat opini publik yang menguntungkan (favourable) melalui kaca mata publik yang memotret aktivitas organisasi di media massa. Lewat citra dan reputasi organisasi tetap dapat berdiri kokoh dalam ranah kompetisi yang sangat tajam merebut pangsa pasar dan konsumen yang loyal pada produk dan servis dari organisasi.
Public Relations (PR) adalah  fungsi manajemen yang membangun dan mempertahankan hubungan  yang baik dan bermanfaat antara organisasi dengan public yang mempengaruhi kesuksesan atau kegagalan organisasi tersebut (Cutlip, Center, & Broom, 2009: 6). Dalam buku “Effective Public Relations” Menurut  Rex F. Harlow,  dalam definisinya mencakup elemen konseptual dan operasional: Public Relations adalah fungsi manajemen tertentu yang membantu membangun dan menjaga lini komunikasi, pemahaman bersama,  penerimaan mutual dan kerja sama antara organisasi dan publiknya; PR melibatkan manajemen problem atau manajemen isu; PR membantu manajemen agar tetap responsif dan mendapat informasi terkini tentang opini publik: PR mendefinisikan dan menekankan tanggung jawab manajemen untuk melayani kepentingan publik; PR membantu manajemen tetap mengikuti perubahan dan memanfaatkan perubahaan secara efektif, dan PR dalam hal ini adalah sebagai sistem peringatan dini untuk mengantisipasi arah perubahan (trends); dan PR menggunakan riset dan komunikasi yang sehat dan etis sebagai alat utamanya (Cutlip, Center, & Broom, 2009: 9).
Definisi Menurut (British) Institute of Public Relations (IPR) PR adalah keseluruhan upaya yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka menciptakan dan memelihara niat baik (good-will) dan saling pengertian antara suatu organisasi dengan segenap khalayaknya. Definisi Menurut (Frank Jefkins) PR adalah semua bentuk komunikasi yang terencana, baik itu ke dalam maupun ke luar, antara suatu organisasi dengan semua khalayaknya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan spesifik yang berlandaskan pada saling pengertian. Pertemuan asosiasi-asosiasi PR seluruh dunia di Mexico City pada bulan Agustus 1978, menghasilkan pernyataan mengenai definisi PR sebagai berikut: “Praktik PR adalah sebuah seni sekaligus ilmu sosial yang menganalisis berbagai kecenderungan, memperkirakan setiap kemungkinan konsekuensinya, memberi masukan dan saran-saran kepada para pemimpin organisasi, serta menerapkan program-program tindakan yang terencana untuk melayani kebutuhan organisasi dan kepentingan khalayaknya (Jefkins & Yadin, 2004: 9-11).
Jadi berdasarkan definisi-definisi tersebut terdapat beberapa inti dari public relations yakni: goodwill, kepercayaan, pengertian pada dan dari publik sesuatu badan khususnya dan masyarakat umumnya. Dalam public relations terdapat suatu usaha untuk mewujudkan hubungan yang harmonis antara sesuatu badan dan publiknya, usaha untuk memberikan atau menanamkan kesan yang menyenangkan, sehingga akan timbul opini publik yang menguntungkan bagi kelangsungan hidup badan tersebut.
Peran adalah abstraksi pola perilaku individu-individu dalam organisasi (Dozier, 1992). Peran merupakan kunci untuk memahami fungsi public relations dan komunikasi organisasi. Peran praktisi public relations menurut Broom dan Dozier (2006) dibedakan atas dua dikotomi, yaitu peran manajerial dan peran teknisi. Peran manajerial meliputi expert prescriber, problem-solving process facilitator, dan communication fasilitator. Peran teknisi yaitu communication technician. Peran expert prescriber memposisikan praktisi PR untuk mendefinisikan masalah, mengembangkan program, dan bertanggungjawab atas penerapannya. Dalam peran ini, praktisi PR bertugas seperti konsultan untuk masalah yang dihadapi organisasi sementara manajemen bersifat pasif dan menyerahkan penyelesaian masalah kepada praktisi public relations. Peran problem-solving process facilitator menurut Broom (Dozier, 1992) memposisikan praktisi public relations membantu manajemen untuk berpikir secara sistematis melalui komunikasi organisasi dan menghubungkan masalah pada solusi. Manajemen dan praktisi public relations bersama-sama mencari pemecahan masalah tahap demi tahap. Peran manajerial ketiga yaitu communication fasilitator yang memposisikan public relations menjadi fasilitator bertemunya manajemen dan publik. Peran ini memiliki perhatian pada proses dimana kualitas dan kuantitas informasi mengalir diantara manajemen dan publik.
Peran teknisi komunikasi menempatkan praktisi public relations sebagai pihak yang memproduksi informasi dan mengkomunikasikan ke pihak luar sesuai arahan manajemen. Peran ini dalam pandangan Broom dipandang sebagai journalist in resident karena menggunakan praktisi yang memiliki keahlian dan pengalaman bekerja di media. Peran public relations dalam organisasi secara struktural ditentukan oleh pemegang kekuasaan.
Menurut Grunig (Putra, 1999), faktor yang mempengaruhi praktek public relations dalam organisasi yaitu pengendalian kekuasaan (power control). Pemegang kekuasan dalam organisasi adalah pihak yang menentukan praktek public relations melalui keputusan-keputusan yang dikeluarkan. Sedangkan keputusan-keputusan tersebut dipengaruhi budaya perusahaan, potensi yang dimiliki bagian public relations, dan pemahaman para pemegang kekuasaan organisasi terhadap public relations.
Kontribusi public relations dalam organisasi dapat diukur berdasarkan peran yang dijalankan. Menurut Broom dan Dozier (2006) terdapat 4 tipe peran public relations, yaitu penasehat ahli (expert prescriber), fasilitator proses pemecahan masalah (problem solving process facilitator), fasilitator komunikasi (communication facilitator) dan teknisi komunikasi (communication technician). Tiga peran pertama dikenal sebagai peran manajer, sedangkan peran keempat disebut peran teknisi.
Konsep peran public relations versi Broom memiliki persoalan ketika berhadapan dengan media baru. Sejauhmana peran public relations dapat relevan dalam era media baru. Apakah peran penasehat ahli (expert prescriber) yang dimiliki praktisi akan terbantu dengan penggunaan media baru. Misalnya mengidentifikasi permasalahan berdasarkan yang disampaikan publik melalui web site organisasi, email dan media sosial. Pencarian isu-isu yang terkait organisasi dan scanning lingkungan dapat terbantu dengan mesin pencari informasi seperti Google dan Yahoo.
Peran yang stratejik memungkinkan penggunaan media baru secara stratejik. Oleh karena itu praktisi PR yang memiliki peran stratejik memiliki potensi untuk menggunakan media baru secara stratejik. Peran penasehat ahli (expert prescriber) yang dimiliki praktisi akan terbantu dengan penggunaan media baru. Misalnya mengidentifikasi permasalahan berdasarkan yang disampaikan publik melalui web site organisasi, email dan media sosial. Pencarian isu-isu yang terkait organisasi dan scanning lingkungan dapat terbantu dengan mesin pencari informasi seperti Google dan Yahoo.
Kegiatan public relations pada hakikatnya merupakan bagian dari tehnik kegiatan berkomunikasi dengan ciri khas komunikasi dua arah (two ways traafic communication) antara lembaga atau organisasi yang diwakilinya dengan publiknya atau sebaliknya. Setelah melakukan kegiatan komunikasi tersebut, pihak Public Relations menganalisa untuk mengetahui efeknya atau feedback, apakan berdampak baik terhadap citra, atau sebaliknya menjadi negatif sehingga kurang menguntungkan bagi perusahaan atau organisasi yang bersangkutan.
Sebagai bagian dari manajemen suatu perusahaan, maka public relations juga memiliki peranan untuk melakukan komunikasi dua arah timbal balik antara perusahaan dengan publiknya. Karenanya peranan public relations dalam manajemen suatu perusahaan terlihat dalam aktivitas pokok public relations yaitu (Ruslan, 2007:24):


PEMBAHASAN

Dalam makalah ini menyajikan studi kasus dalam http://m.prindonesia.co dimana disebutkan bahwa manajemen Bank Danamon telah meluncurkan laman dan persona media sosial resmi perusahaan terbaru. Perubahan ini merupakan perjalananan digital dan bentuk komitmen perusahaan untuk selalu bertransformasi dan beradaptasi menyesuaikan kebutuhan nasabah dan perkembangan zaman. Khusus pada laman www.danamon.co.id, perusahaan yang memiliki 1.700 cabang ini membenamkan sistem dan platformSiteCore dilengkapi fitur-fitur terkini yang memenuhi semua unsur mobile friendly sejalan dengan slogan mereka, “Saatnya Pegang Kendali”.  Sementara dari sisi media sosial, Danamon melakukan perampingan dengan menyisakan dua akun dari yang awalnya 23 akun. Yakni, akun Danamon sebagai akun corporate social media di Twitter, Facebook, Instagram, LinkedIn, dan YouTube. Serta, akun Twitter @HeiloDanamon untuk layanan nasabah.

Era Digital, Danamon Restrukturisasi Komunikasi Besar-besaran
Bertempat di salah satu kafe di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (26/8/2017), Bank Danamon meluncurkan laman dan persona media sosial resmi perusahaan terbaru. Perubahan ini merupakan perjalananan digital dan bentuk komitmen perusahaan untuk selalu bertransformasi dan beradaptasi menyesuaikan kebutuhan nasabah dan perkembangan zaman.
Ratna Kartika – 28/09/2017
http://m.prindonesia.co/detail/733/Era-Digital-Danamon-Restrukturisasi-Komunikasi-Besar-besaran


PR Digital Perlu Memperkuat Konten untuk Menjaga Merek
09 November 2017, Ratna Kartika
Potret dinamika dan besarnya manfaat dari keberadaan media sosial sudah ditangkap Danamon sejak 2015. Restrukturisasi digital besar-besaran dilakukan setahun kemudian. Di tahun yang sama, perbankan yang berdiri sejak 1956 itu membentuk tim baru di bawah divisi marketing, yakni Digital & On-line Marketing.    
Perubahan antara lain tampak pada laman resmi dan media sosial. Sementara untuk mempererat hubungan internal, lahir platform khusus karyawan bernama EAZY. Rangkaian evolusi itu mereka rangkum dalam Danamon Digital Journey yang dipublikasikan di hadapan publik di Jakarta, Selasa (26/9/2017).
Menurut Ghandy I. Sastratenaya, Digital & On-line Marketing Head Group Marketing Danamon, restrukturisasi mau tidak mau harus dilakukan dengan segera dan cepat jika tak ingin punah seperti halnya dinosaurus di tengah semakin banyaknya inovasi teknologi yang menawarkan kemudahan finansial.
Khusus laman www.danamon.co.id, perusahaan yang memiliki 1.700 cabang ini membenamkan sistem dan platformSiteCore dilengkapi fitur-fitur terkini yang memenuhi semua unsur mobile friendly sejalan dengan slogan mereka, “Saatnya Pegang Kendali”.  Sementara dari sisi media sosial, Danamon melakukan perampingan dengan menyisakan dua akun dari yang awalnya 23 akun. Yakni, akun Danamon sebagai akun corporate social media di Twitter, Facebook, Instagram, LinkedIn, dan YouTube. Serta, akun Twitter @HeiloDanamon untuk layanan nasabah.
Tiap media sosial, kata Ghandy, memiliki ciri khas sesuai karakteristik masing-masing. Twitter, misalnya, lebih aktif berkicau saat live event. Facebook membahas seputar informasi produk dan aktivitas perusahaan dengan gaya bahasa dan tampilan yang bisa diterima oleh segala lini usia. Sementara Instagram mengupas produk dan gaya hidup. Tampilannya dibuat lebih segar berisi video dan gambar bercerita untuk merangkul kaum millennials. 
Kanal Baru
Menyadari media sosial harus kaya konten, ia membagi sepuluh anggotanya menjadi tiga tim. Yakni, tim konten, tim admin, dan tim yang khusus mengelola komunitas. Setiap minggu mereka melakukan rapat editorial layaknya tim redaksi untuk merancang konten selama seminggu ke depan. Konten yang dikembangkan sejalan dengan agenda divisi produk.
Sejumlah pembagian tugas dan rencana strategis ini, menurut Ghandy, merupakan bentuk dari komitmen mereka untuk menambah jumlah engagement. “Sedari awal mengembangkan medsos, kami berprinsip tidak untuk mencari followers,” katanya. Tapi untuk menambah engagement juga bukan perkara mudah. Perlu konten yang kuat, menarik, memuat unsur interaksi dua arah, dan memastikan reputasi brand tetap terjaga,” katanya.
Intinya, kata Ghandy, media sosial adalah kanal komunikasi baru bagi Danamon untuk mendengar apa yang diinginkan oleh nasabah sehingga perusahaan bisa memahami kebutuhan mereka lebih baik. Konten yang memuat unsur menarik, inspiratif dan edukatif ini diharapkan dapat menjadi jawaban atas keprihatinan mereka, terutama kepada generasi millennials. “Kami ingin tiap kali millennials bicara soal uang, yang ada di pikiran mereka bukan hanya tentang travelling, tapi juga saving money,” pungkasnya. rtn
http://www.prindonesia.co/detail/768/PR-Digital-Perlu-Memperkuat-Konten-untuk-Menjaga-Merek


Di Indonesia akses internet meningkat sejalan dengan perkembangan infrastruktur komunikasi, termasuk pedesaan. Demografi pengguna Internet tahun 2015 (sumber APJII 2015) menunjukkan angka hampir 100 juta pengguna, artinya mendekati separuh penduduk Indonesia sudah mengenal internet. Sedangkan hasil riset demografi APJII pada tahun 2016 pengguna Internet di Indonesia telah mencapai 132,7 juta (51,8 %) dari total populasi penduduk Indonesia yang mencapai 256 juta. Akses internet pada tahun 2016 masih didominasi perangkat bergerak (internet mobile) sebanyak 69 persen (92,8 juta pengguna) disusul oleh internet rumah 13,3 persen (17,7 pengguna), fasilitas internet kantor 11,2 persen (14,9 juta pengguna) dan sisanya menggunakan internet kampus, kafe hingga warnet. Penyebaran pengguna internet di Indonesia masih tertinggi di pulau Jawa sebesar 65 persen (86,3 juta orang) disusul Sumatra (15,7 %), Sulawesi (6,3%), Kalimantan (5,8 %), Bali dan Lombok (4,7%), Maluku dan terakhir Papua (2,5%).
Dalam perusahaan, istilah komunikasi perusahaan digunakan untuk menggambarkan empat aspek komunikasi yang berbeda (Argenti & Forman, 2002): Ini mungkin menggambarkan sebuah fungsi, seperti pemasaran atau operasi; saluran komunikasi; sebuah proses komunikasi; atau sikap atau set keyakinan. Fungsi komunikasi korporat perusahaan bertanggung jawab atas komunikasi dengan konstituen internal dan eksternal.
Membahas apa yang telah dilakukan oleh manajemen Bank Danamon sangat penting terkait penggunaan media baru dalam public relation (www.prindonesia.co). Hal ini mengingat terdapat kompleksitas fenomena penggunaan media baru pada praktisi public relations. Penggunaan analisis peran praktisi PR menjadi perhatian dari para peneliti. Sha dan dozier pada tahun 2012 (Lee, 2013) mengadakan penelitian mengenai penggunaan media sosial yang dikaitkan dengan peran praktisi PR dengan instrumen peran public relations versi Broom. Mendasarkan pada peran PR versi Broom, Sha dan Dozier mengkaitkan penggunaan media baru untuk scanning lingkungan pada responden manajer. Untuk praktisi, diteliti penggunaan media sosial untuk penyebaran pesan. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa item-item dalam sosial media disebabkan faktor ketiga diluar ukuran-ukuran peran manajer dan teknisi. Sha dan Dozier (Lee, 2013) menyimpulkan bahwa peran PR dalam menggunakan media sosial menurut Dozier tidak dapat dipandang sebagai role enacetment, tetapi merupakan konsekuensi dari role enactment.
Dalam konteks ini penggunaan media tidak terkait langsung dengan peran yang melekat pada status praktisi, tetapi lebih pada konsekuensi dari peran tersebut. Konsekuensi tidak bisa dikatakan mutlak, karena tergantung dari implementasi dan sesuai konteksnya. Para manajer memiliki peluang menggunakan konsekuensi perannya maupun tidak. Demikian pula para staf dapat menggunakan kosekuensinya atau tidak, tergantung pada situasi dan kondisi yang sesuai pada masing-masing organisasi.
Lee (2013) dalam penelitiannya, mencoba menggunakan 4 tipologi peran praktisi dalam media sosial. Menurut Lee (2013) terdapat 4 kategori peran dalam media sosial yaitu yaitu: social media for one-way message dissemination, social media for non-Aligned Purposes, dialogic social media, dan utilization social media for organizational change. Peran social media for one-way message dissemination memiliki makna yaitu praktisi yang berperan menyebarkan pesan secara searah. Peran ini meskipun dalam konteks media baru masih memiliki relevansi dengan model searah (one way) Grunig yaitu press agentry atau model publisitas. Peran kedua yaitu social media for non-Aligned Purposes. Peran dalam hal ini memiliki makna yaitu ketika praktik media sosial dan tujuan tidak terhubung maka organisasi akan hadir dalam media sosial. Peran ketiga yaitu dialogic social media yaitu penggunaan media sosial untuk memfasilitasi percakapan yang terbuka antara organisasi dan publik sebagaimana antar publik. Peran keempat yaitu peran praktisi media sosial untuk perubahan organisasi dalam upaya untuk menginformasikan pembuatan keputusan yang stratejik.
Fungsi public relations menurut Cutlip, Center, dan Broom (Putra, 1999) dibedakan atas 2 jenis, yaitu fungsi manajemen dan fungsi komunikasi. Praktisi yang menjalankan fungsi manajemen bertugas menyusun kebijakan, dan bertanggungjawab terhadap konsekuensi yang muncul. Dalam konteks fungsi manajemen menurut Putra (1999), praktisi public relations berperan menjadi penasehat manajemen dalam mengambil kebijakan yang tepat dan diterima publik. Dalam konteks fungsi komunikasi, public relations menurut Putra (1999) adalah staf khusus yang melayani para pemimpin organisasi, khususnya membantu dalam berkomunikasi dengan publik.
Penggunaan media baru sebagai pelaksanaan fungsi public relations dapat dilihat pada dua perspektif. Pertama, melihat penggunaan media baru sebagai pelaksanaan fungsi public relations (tidak menjadi subordinasi fungsi manajemen yang lain). Kedua, melihat penggunaan media baru sebagai pelaksanaan fungsi public relations yang mendukung fungsi manajemen yang lain misalnya marketing. Integrasi marketing dan public relations dapat dilihat pada beberapa bagian dari pola-pola relasi marketing dan public relations yang dikemukakan oleh Kotler and Mindak (Grunig dkk: 2002) sebagai berikut:
1)      Public relations dan marketing dipisahkan tetapi memiliki fungsi yang setara. Public relations dan Marketing memiliki fungsi, perspektif, dan kapabilitas yang berbeda.
2)      Public relations dan marketing setara namun memiliki fungsi yang tumpang tindih. Pada satu sisi keduanya berbagi area kerja misalnya untuk publisitas produk dan hubungan dengan pelanggan. Pada sisi yang lain public relations berperan sebagai watchdog pada konteks tanggung jawab sosial dari marketing.
3)      Marketing sebagai fungsi yang dominan. Fungsi public relations menjadi bagian dari marketing. Marketing mengelola hubungan dengan semua publik sebagaimana mengembangkan hubungan dengan pelanggan.
4)      Public relations sebagai fungsi yang dominan. Public relations mengembangkan hubungan dengan semua publik dan mengembangkan hubungan dengan pelanggan. Marketing menjadi subordinasi public relations.
5)      Marketing dan public relations memiliki fungsi yang sama. Marketing dan public relations menyatu dalam konsep dan metodologi dan berada pada satu departemen untuk mengatur urusan eksternal organisasi.

Grunig dan Hunt (1984) mengemukakan model public relations antara lain model press agentry, public information, two way asymmetrics, dan two way symmetrics. Model press agentry sebagaimana dijelaskan dalam Putra (1999) menekankan pada tujuan-tujuan memperoleh publisitas media massa yang menguntungkan organisasi. Pada era media baru, publisitas dapat menggunakan media on-line. Organisasi dapat mempublikasikan melalui laman-laman web berkonten berita, blog, media sosial, maupun web site organisasi.
Model public information menurut Grunig dan Hunt (Putra, 1999) menekankan penyebaran informasi kepada publik. Model ini sering dijuluki jurnalist in residence. Grunig dan Hunt (1992) menyatakan bahwa model informasi publik lebih menekankan pada penulisan hal-hal yang bagus tentang organisasi, namun kurang memperhatikan sisi kebenaran dan akurasi. Model press agentry dan public informations cenderung bersifat searah, yaitu penyampaian informasi dari organisasi ke publik.
Model public relations berikutnya bersifat dua arah, yaitu two way asymmetrics, dan two way symmetric. Model dua arah asimetris dalam Putra (1999) menekankan penggunaan riset untuk pengembangan pesan-pesan persuasi dalam mempengaruhi publik agar berpikir, bersikap, dan bertindak sesuai harapan organisasi. Model dua arah asimetris dikenal juga sebagai persuasi ilmiah. Model two way symmetric dalam Putra (1999) menggunakan penelitian dan komunikasi untuk mengelola konflik dan meningkatkan pemahaman terhadap publik stratejik. Model ini menekankan perubahan perilaku organisasi untuk merespon tuntutan publik. Model dua arah simetris menekankan prinsip obyektif daripada persuasi.
Menurut Grunig (2009), media baru memiliki perangkat-perangkat yang bersifat dialogic, interaktif, dan global yang mendukung paradigma manajemen stratejik public relations. Namun penggunaan media baru yang masih menggunakan cara lama menjadikan penggunaan media baru menjadi belum optimal. Misalnya penggunaan media baru seperti web site, dan email untuk menampung dan menyebarkan informasi (Grunig, 2009). Penggunaan media baru dapat dijelaskan dalam model public relations (Grunig, 2009), misalnya web site organisasi yang menggunakan model statis cenderung pada model propaganda (press agentry). Web site yang diperbaharui kontennya secara berkala cenderung pada model informasi publik. Blog yang difasilitasi perangkat untuk berkomentar cenderung pada model two-way asymmetric. Situs media sosial yang terbuka dan komunitas online interaktif lebih cenderung pada model two way symmetric.
Kelleher (2001) dalam penelitiannya menemukan bahwa penggunaan email pada manajer dan teknisi yang diteliti tidak menunjukan perbedaan yang signifikan. Diga dan Kelleher (2009) dalam penelitiannya menemukan bahwa praktisi public relations baik manajer maupun teknisi tidak memiliki perbedaan yang signifikan mengenai frekuensi penggunaan situs jejaring sosial dan media sosial. Melalui penggunaan situs jejaring sosial praktisi yang diteliti merasa mendapatkan structural power, expert power, dan prestige power. Penggunaan media baru di kalangan praktisi manajer dan staf tidak terbatas pada penggunaan yang bersifat teknis saja. Penggunaan media baru memungkinkan manajer public relations menggunakan perannya. Salah satu cara yang bisa digunakan yaitu menggunakan cyberbridging. Kornegay dan Grunig (1998) mengemukakan dengan menggunakan website organisasi, manajer public relations dapat melakukan scanning lingkungan, memperoleh kekuasaan, berhubungan dengan pemegang kekusaan yang diistilahkan koalisi dominan, dan memiliki andil dalam proses pengambilan keputusan.
Penggunaan media baru yang bersifat stratejik yang pernah diteliti yaitu penggunaan web site organisasi untuk menjembatani komunikasi organisasi dan publik dan penyediaan informasi bagi publik (Galih, 2013; Yazid, 2012). Melalui web site organisasi, publik dapat menyampaikan keluhan atau permasalahan kemudian public relations meneruskannya kepada pihak yang bertanggungjawab terhadap masalah tersebut. Setelah ada pemecahan masalah, praktisi public relations menyampaikan jawaban permasalahan melalui web site organisasi. Penggunaan media baru seperti web site dalam aktivitas public relations tersebut masih didominasi untuk kepentingan teknis terutama untuk menjalankan peran teknisi komunikasi.
Penggunaan media baru dalam aktivitas public relations memiliki orientasi berdasarkan model public relations yang dikembangkan dalam organisasi. Setiap implementasi model public relations pada media baru memiliki konsekuensi yang berbeda. Penggunaan media baru dapat dijelaskan dalam model public relations (Grunig, 2009), misalnya web site organisasi yang menggunakan model statis cenderung pada model propaganda (press agentry). Web site yang diperbaharui kontennya secara berkala cenderung pada model informasi publik. Blog yang difasilitasi perangkat untuk berkomentar cenderung pada model two-way asymmetric. Situs media sosial yang terbuka dan komunitas online interaktif lebih cenderung pada model two way symmetric. Setiap praktisi public relations organisasi secara umum dapat mengaplikasikan 4 model public relations ketika menggunakan media baru.
Namun aplikasi model public relations melalui penggunaan media baru memiliki konsekuensi bagi kepentingan organisasi dan publik. Dalam konteks untuk mendapatkan publisitas dan penyediaan informasi yang optimal, media baru dapat digunakan untuk menyebarkan dan menyediakan informasi. Dalam konteks mencapai kualitas hubungan organisasi dan publik, maka model PR yang sesuai untuk diaplikasikan melalui media baru yaitu model komunikasi dua arah simetris.
Bank Danamon menjalin hubungan dengan stakeholder/nasabah yang diantaranya adalah generasi milenial dengan strategi pengembangan hubungan melalui media baru dapat dilakukan dengan model dua arah dan dialogis. Generasi milenial dalam kesaharian menggunakan media baru melalui perangkat komputer dan smartphone yang tersambung internet. Oleh karenanya strategi pengembangan hubungan organisasi dan publik dapat dilakukan melalui media baru atau internet (Men, 2012) yaitu: pertama, strategi keterbukaan (disclosure/openness); Kedua, diseminasi informasi; Ketiga, yaitu interaktivitas dan keterlibatan. Keterbukaan memiliki substansi yaitu kemauan organisasi untuk berhubungan secara langsung dan membuka dialog dengan publik. Keterbukaan dalam media baru dapat ditampilkan dengan memberikan deskripsi mengenai profil organisasi. Diseminasi informasi dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan dan minat publik mengenai informasi organisasi. Sedangkan interaktivitas dan keterlibatan menyangkut bagaimana publik dapat mudah berinteraksi secara online dan terlibat dalam mengomentari sebuah isu dan berdialog melalui media baru dengan organisasi.
Seo, Kim, dan Yang (2009) dalam penelitianya tentang penggunaan media baru pada organisasi-organisasi non pemerintah (NGO) transnasional menemukan bahwa fungsi media baru (new media) yang siginifikan bagi NGO adalah mempromosikan image organisasi dan penggalangan dana. Dalam penelitian tersebut tujuan organisasi dan kapasitas organisasi dalam menggunakan media baru dapat diprediksi secara signifikan. Organisasi menggunakan web site untuk mempromosikan image organisasi dan penggalangan dana, serta menggunakan blog untuk melakukan advokasi terhadap organisasi. Penggunaan web site tersebut lebih sesuai dengan model dua arah asimetris. Dalam penelitiannya Jo dan Jung (2005) menyatakan bahwa hasil penelitian mengenai web site perusahaan di Amerika Serikat dan Korea Selatan menunjukkan hal yang sama yaitu cenderung mendekati model press agentry.
Selain itu Perusahaan Amerika serikat menggunakan model public information dibandingkan perusahaan Korea Selatan. Untuk model dua arah perusahaan Amerika serikat dan Korea sama-sama tidak ditemukan hal yang signifikan. Menurut Grunig (2009), media baru memiliki perangkat-perangkat yang bersifat dialogic, interaktif, dan global yang mendukung pendekatan manajemen stratejik public relations. Namun penggunaan media baru yang masih menggunakan cara lama menjadikan penggunaan media baru menjadi belum optimal. Misalnya penggunaan media baru seperti web site, dan email untuk menampung dan menyebarkan informasi (Grunig, 2009).
Bank Danamon telah menerapkan public relation digital melalui web www.danamon.co.id Kehadiran media baru memiliki relevansi dengan munculnya konsep public relations 2.0 (e-PR). Media baru yang pada awal kehadirannya hanya cenderung menggunakan pola komunikasi searah, saat ini telah menyediakan fasilitas komunikasi dua arah. Kegiatan public relations yang bersifat dua arah dapat dilakukan dengan berbagai macam pilihan media, yaitu melalui website organisasi, situs jejaring sosial, blog, dan email.
Web site dapat digunakan sebagai media bagi organisasi untuk membangun hubungan dengan publik (Vorvoreanu, 2008:54). Website juga dapat digunakan organisasi untuk membangun dialog dengan publik. Kent dan Taylor (1998) berpendapat bahwa web site dapat digunakan untuk menciptakan dan memperbaiki hubungan organisasi dan publik melalui dialog. Melalui website, organisasi dan publik dapat berdiskusi mengenai isu sosial yang terkait. Menurut Heath (1998) isu sosial yang terjadi dapat menimbulkan hubungan yang tidak menguntungkan antara organisasi dan aktivis. Oleh karena itu web site organisasi dapat menjadi media bagi perusahaan/organisasi untuk berdialog dengan publik. Dalam penelitian Jo dan Kim (2003) menunjukkan bahwa web site organisasi dapat mempengaruhi persepsi mengenai hubungan organisasi dan publik.
Bank danamon telah menggunakan media baru dalam komunikasi korporat perusahaan bertanggung jawab atas komunikasi dengan konstituen internal dan eksternal. Ini melibatkan sejumlah subfungsi, seperti hubungan media, hubungan investor, komunikasi internal atau karyawan, hubungan pemerintah atau urusan publik, hubungan masyarakat, filantropi perusahaan, reputasi perusahaan, dan komunikasi pemasaran. Saluran komunikasi perusahaan tidak hanya mencakup materi cetak tapi juga informasi yang diposting di situs Web dan blog perusahaan. Proses komunikasi melibatkan gaya komunikasi, termasuk nada dan timing. Beberapa organisasi, misalnya, dapat menggunakan gaya yang sangat formal dan birokratis, sedangkan yang lain lebih suka gaya informal yang memfasilitasi dialog bebas mengalir antara manajer senior dan karyawan, pelanggan, analis, dan konstituen lainnya. Akhirnya, komunikasi korporat juga merupakan sikap atau rangkaian kepercayaan yang dimiliki orang tentang apa dan bagaimana berkomunikasi dan nilai inheren dari upaya komunikasi semacam itu.
Untuk memanfaatkan kekuatan media sosial untuk tujuan membangun merek (Costantinides & Fountain, 2008; Wright, 2006), yang pertama-tama memahami dinamika fungsional mereka secara khusus. Pendekatan berikut adalah sebagai berikut:
§  Menggunakan media sosial yang ada dalam program hubungan masyarakat untuk menjangkau opini online baru, seperti blogger dan podcaster, dan menginformasikan mereka tentang produk dan layanan, inisiatif masyarakat, atau inovasi;
§  Menggunakan media sosial untuk mendengarkan suara para pemangku kepentingan dalam diskusi yang berfokus pada topik yang relevan dengan perusahaan;
§  Memulai platform interaktif langsung, memberi mereka masukan dari karyawan dan manajer, dan menggunakan bentuk komunikasi satu-ke-satu dan banyak-ke-banyak ini untuk membangun, memelihara, dan memperkuat hubungan, citra, dan reputasi.

Dalam interaktif PR digital, khalayak atau masyarakat tidak hanya selalu melihat informasi yang disuguhkan oleh perusahaan, tetapi bisa turut aktif berkomunikasi, berkomentar menyampaikan pendapatnya terkait informasi yang diberikan oleh pihak perusahaan tersebut. Komunikasi yang terjalin lebih interaktif tentu akan menyenangkan, baik untuk khalayak sasaran maupun pihak PR perusahaan sendiri. Dengan adanya komunikasi interaktif, maka pihak perusahaan sudah dapat menciptakan citra yang baik dihadapan khalayak konsumen.




PENUTUP

Fungsi Public Relations dasarnya adalah sebagai penghubung komunikasi antara publik dengan perusahaan/organisasi, serta membangun relasi kepada khalayaknya dengan tujuan terbangunnya citra yang baik terhadap suatu perusahaan/organisasi dengan menggunakan segala media yang dianggap sesuai dengan khalayaknya dalam menyampaikan informasi atau pesan yang akan dituju. Hadirnya teknologi informasi, maka dikenal e-PR yang memanfaatkan media baru dalam penyebaran dan melakukan informasi secara efektif dan efisien menggunakan internet. PR harus dapat melihat karakteristik perusahaan dan karakteristik khalayak, juga pesan dan hasil yang ingin dicapai, setelah itu barulah dapat memilih yang mana yang lebih cocok dalam pelaksanaan program–program tersebut. Public Relations Konvensional atau Cyber Public Relations (e-PR). Kegiatan yang dilakukan oleh e-PR dan PR Konvensional adalah sama yaitu sama-sama mengkomunikasikan dan menyebarluaskan informasi dari suatu perusahaan kepada public, hanya saja yang membedakannya adalah sarana yang dipakai oleh e-PR dan PR konvensional.
Kehadiran teknologi komunikasi dan konvergensi media dengan adanya internet mempunyai implikasi pada manajemen komunikasi korporasi/organisasi. Banyak peluang baru yang muncul dengan kehadiran media baru terkait dengan bagaimana manager komunikasi berhubungan dengan pemangku kepentingan internal maupun eksternal serta beragam media baru yang digunakan. Model-model komunikasi korporat yang selama ini cenderung bersifat searah sesuai dengan karakter pokok media konvensional perlu menyesuaikan dengan media baru/media sosial yang di samping cenderung bersifat interaktif, pesan yang mudah viral dan dalam beberapa hal sangat disruptif.
Karenanya peranan komunikasi sangatlah penting, internet jika diolah dengan proses komunikasi yang benar dan tepat, akan menghasilkan suatu produk yang sangat efektif dalam menjangkau khalayak. PR Bank Danamon memanfaatkan teknologi internet untuk menjalin hubungan komunikasi dengan khalayak publiknya.  Bank Danamon telah menerapkan public relation digital melalui web www.danamon.co.id Kehadiran media baru memiliki relevansi dengan munculnya konsep public relations 2.0 (e-PR). Media baru yang pada awal kehadirannya hanya cenderung menggunakan pola komunikasi searah, saat ini telah menyediakan fasilitas komunikasi dua arah. Kegiatan public relations yang bersifat dua arah dapat dilakukan dengan berbagai macam pilihan media, yaitu melalui website organisasi, situs jejaring sosial, blog, dan email.
Untuk publik eksternal (stakeholder) menggunakan sistem dan platform baru bernama SiteCore--sistem manajemen konten ternama di industri pengembangan website--pada laman terbaru www.danamon.co.id. Situs terbaru ini dilengkapi dengan fitur terkini, salah satunya Maps Locater yang memudahkan nasabah  menemukan lokasi bank atau ATM terdekat. Selain itu, memenuhi unsur mobile friendly karena mudah diakses melalui smart phone, tablet, laptop, maupun layar komputer. Desainnya responsif, terdapat quick sticky menu, swap and scroll, sistem navigasi informasi produk yang berorientasi terhadap keinginan atau relevansi nasabah, hingga simulasi produk. Memanfaatkan kekuatan media sosial untuk tujuan membangun merek, program hubungan masyarakat untuk menjangkau opini online baru, seperti blogger dan podcaster, dan menginformasikan mereka tentang produk dan layanan, inisiatif masyarakat, atau inovasi, mendengarkan suara para pemangku kepentingan dalam diskusi yang berfokus pada topik yang relevan dengan perusahaan. Disamping itu kekuatan media baru bisa digunakan untuk membangun, memelihara, dan memperkuat hubungan, citra, dan reputasi.




DAFTAR PUSTAKA


Buku/artikel

Abrar, Ana Nadya. (2003). Teknologi Komunikasi: Perspektif Ilmu Komunikasi. LESFI. Yogyakarta.
Argenti, A. Paul. (2009). Komunikasi Korporat. Penerbit Salemba Humanika. Jakarta
Argenti, Paul A (2006). ’How Technology Has Influenced the Field of Corporate Communication’. Journal of Businnes and Technical Communication/ Vol. 20 No 3 July. 357-370
Bernays, Edward. L. (2002). Public Relations. Kesingger Publishing, LLC
Cho, Moonhe, Furey, Lauren D., Mohr, Tiffany (2017). ’Communicating Corporate Social Responsibility on Social Media: Strategies. Stakeholders, and Public Engagement on Corporate Facebook’, Business and Professional Quaterly. Vol. 80 (I) 52-69.
Chong, Mark. (2006). The role of internal communication and training in infusing corporate values and delivering brand promise: Singapore Airlines’ Experience
Christensen, Lars Thoger & Cornelissen, Joep (2011). ’Bridging Corporate and Organizational Communication: Review, Development and a Look to the Future.
Cutlip, Scott M. Allen H, Center. Broom, Glen M. (2005).  Effective Public Relations. Edisi 8. Jakarta: PT Indeks Kelompok Gramedia
Grunig, James E. (2009). "Paradigms of global public relations in an age of digitalisation." PRism 6.2 (2009): 1-19.
Jefkins, & Yadin. (2003). Public Relations. Edisi kelima Jakarta: Penerbit Erlangga
Kotler, Philip and Gary Armstrong, (2008). Prinsip-Prinsip Pemasaran. Edisi 12. Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Lee, Nicole Marie. (2013). The role of new public relations practioners as social media expert. A thesis. San Diego State University
Marsefio S. Luhukay, (2008). Penerapan Manajemen Krisis di Indonesia. Jurnal Ilmiah Scriptura, Vol. 2, No. 1, 19.
Mayer, Frank C. (1970). Internal Communication. The Clearing House Vol. 44 No. 5 (Jan. 1970) pp. 290-295
McQuail, Denis. (2010). Mass Communication Theory. Sixth Edition. London: Sage. /Penerjemah Putri Iva Izzati. 2011. Jakarta. Salemba Humanika.
Putra, I Gusti. (1999). Manajemen Hubungan Masyarakat. Yogyakarta: Penerbit Universitas Atmajaya
Putra, I Gusti. (2009). Paradigma Public Relations, Kontribusinya bagi Organisasi dan Tantangan ke depan dalam Public Relations dan Corporate Social Responsibility. Editor Aswad Ishak dan Setio Budi H. Penerbit Aspikom
Ralph Currier David dan Allan C. Filley, (1973). Principle of Management, Penerbit: Alexander Hamilton Institute. New York.
Rogers, Everett M. (1986). Communication technology : the new media in society. Free Press ; London : Collier Macmillan, New York
Ruslan, Rosady. (2004) Metode Penelitian: Public Relation dan Komunikasi. Penerbit: PT. Raja Grafindo Perkasa. Jakarta
Siagian, S.P. (2006). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.
Soemirat, Soleh & Ardianto, Elvinaro. (2007), Dasar-Dasar Public Relations, Bandung, Rosdakarya.
Vernuccio, Maria (2014). ’Communicating Corporate Brands Through Social Media: An Exploratory Study. International Journal of Business Communication. Vol 51 (3) 211-233
Vorvoreanu, M. (2008). Web site public relations: How corporations build and maintain relationships online. Cambria Press.

Situs online:

http://m.prindonesia.co


Tesis
Anwar, Rofiq. (2014). Penggunaan Media Baru Oleh Praktisi Public Relations  di Organisasi Profit dan Non Profit di Yogyakarta. Tesis UGM.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar