Senin, 03 September 2018

manajemen komunikasi krisis


STRATEGI KOMUNIKASI KRISIS “BLUE BIRD” PASCA DEMO ANARKIS TANGGAL 22 MARET 2016 DI JAKARTA
                                                                                                                                   
Sahuri
Program S2 Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Email : huri.adam@gmail.com


Abstrak :

Tidak ada satu organisasi atau perusahaan yang terlepas dari krisis, baik itu organisasi besar maupun organisasi kecil. Blue Bird sebagai perusahaaan transportasi pernah mengalami krisis. Akibat krisis reputasi Blue Bird langsung hancur seketika. Ketika perusahaan terkena krisis diperlukan strategi komunikasi krisis yang tepat agar krisis bisa reda dan tidak menjadi parah. Ada beberapa strategi komunikasi humas (public relations) yang digunakan sebagai strategi komunikasi krisis. antara lain publisitas, newsworthy information, dan transparent communication (Smith). selain itu ada pula strategi Attack the accuser, Denial, Excuse, Justification, Ingratiation, Corrective action, dan Full apology  (Coombs, 1992). Menurut analisa penulis perusahaan Blue Bird menggunakan strategi tersebut serta memanfaatkan media massa dan new media saat krisis terjadi dan untuk pemulihan dari krisis.
Blue Bird berusaha membangun kembali reputasiya melalui rilis permintaan maaf  melalui media sosial twitter dan press conference pada 22 Maret 2016 serta memberi layanan taxi gratis 24 jam pada tanggal 23 Maret 2016. Disamping itu Bule Bird juga menjalin kerjasama dengan Go-jek serta menjadi sponsorship untuk beberapa kegiatan. Hal-hal tersebut dilakukan oleh Blue Bird agar dapat mengembalikan reputasi yang negatif menjadi positif kembali dan menyelamatkan perusahaan dari tekanan krisis.

Kata Kunci: Krisis, Strategi Komunikasi Krisis, Public Relations,  Reputasi


PENDAHULUAN

Tidak selamanya organisasi berjalan dengan lurus dan mulus, suatu saat dia bisa terkena masalah atau krisis. Tidak ada satu organisasi atau perusahaan yang kebal dari krisis, baik itu organisasi besar maupun organisasi kecil. Krisis yang muncul dapat berasal dari internal maupun eksternal organisasi, dan krisis biasanya timbul secara tiba-tiba. Misalnya krisis kecelakaan pesawat pada Air Asia, krisis semburan lumpur pada PT. Lapindo, krisis isu bahaya rokok bagi perusahaan rokok di Indonesia, atau berupa tumpahnya minyak Pertamina di perairan Cilacap. Krisis tidak hanya terjadi pada organisasi yang besar dan berpengalaman saja, tapi juga rentan terjadi pada organisasi kecil, khususnya pada perusahaan yang baru berdiri.
Pada umumnya krisis yang sedang menyerang perusahaan bertambah parah ketika perusahaan gagal dalam mengelola komunikasi dimasa krisis, sehingga komunikasi menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Setiap organsiasi tidak boleh mengabaikan sebuah krisis begitu saja, perusahaan harus cepat tanggap dalam memberikan penanganan serta harus memiliki serangkaian kesiapan tersendiri untuk mengatasi krisis. Berbagai krisis dapat terselesaikan dengan baik dan dapat pula menghancurkan organisasi atau perusahaan tersebut. Hal penting yang dapat dipelajari dari organisasi atau perusahaan yang selamat dari krisis adalah kemampuannya untuk megelola krisis dan memasukkan manajemen komunikasi sebagai bagian penting dalam menyelesaikan krisis, sehingga krisis tidak menjadi masalah yang berlarut-larut dan bertambah parah yang dapat berpotensi menghancurkan reputasi perusahaan dimata masyarakat.
Coombs dalam bukunya The Handbook of Crisis Communication mendefinisikan krisis “an event that is an unpredictable, major threat that can have a negative effect on the organization, industry, or stakeholders if handled improperly” (Coombs, 2010:18). Coombs menjelaskan bahwa krisis merupakan sebuah kejadian yang tak terduga dan menjadi ancaman yang membawa dampak negatif bagi organisasi, industri atau stakeholders bila tidak ditangani dengan baik
Sebagai sebuah perusahaan yang melayani transportasi, Blue Bird yang selama ini memiliki reputasi sebagai merk taksi yang nyaman, aman, dan santun tidak lepas dari krisis. Krisis muncul sejak adanya layanan transportasi online Go-car, GrabCar dan Uber. Selanjutnya adanya demonstrasi para pengemudi sopir Blue Bird yang tergabung dalam Paguyuban Pengemudi Angkutan Darat (PPAD) pada tanggal 22 Maret 2016 di Jakarta. Di sinilah permasalahan baru dimulai manakala para pengemudi taksi Blue Bird melakukan tindakan anarkis dalam proses demonstrasi yang dilakukan. Akibat demo ini 150 taxi Blue Bird rusak. Reputasi Blue Bird langsung hancur seketika akibat peristiwa tersebut. Selain Saham Blue Bird terjun bebas hingga 57,75% dan masuk salah satu top losers di papan bursa efek Indonesia dan penurunan laba hingga 40 persen.
Dalam krisis yang menyerang Blue Bird, membuat manajemen harus melakukan manajemen komunikasi krisis yang tepat agar krisis tidak semakin besar dan harus memiliki strategi khusus yang dapat dilakukan Blue Bird dalam melakukan problem solving. Bagaimana strategi komunikasi krisis yang dilakukan oleh Blue Bird dalam menghadapi tekanan krisis,  mengembalikan reputasi serta menyelamatkan perusahaaan di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi?
Dalam makalah ini penulis menggunakan analisis deskriptif untuk menguraikan strategi komunikasi krisis yang dilakukan Blue Bird. Analisis dilakukan berdasarkan tinjauan pustaka yang berasal dari berbagai literature seperti buku, jurnal, artikel berita media online dan sumber lainnya yang relevan terkait manajemen komunikasi krisis.


TINJAUAN PUSTAKA

Tidak ada satupun organisasi yang kebal terhadap krisis (Coombs,1999:1). Kemajuan zaman dan persaingan yang semakin ketat saat ini membuat krisis menjadi kenyataan yang sangat mungkin akan dihadapi oleh setiap organisasi tanpa memandang bentuk organisasinya.
Terdapat tiga karakteristik krisis yang dikutip dari pendapat Holsti tentang krisis dalam (Putra, 2008:9.3) yaitu “situations characterized by surprise, high threat to important value, and a short decision time”. Karakteristik krisis yang pertama adalah “surprise” dimana krisis merupakan sebuah kejadian yang mengejutkan kedatangannya. Krisis merupakan “high threat to important value” yang berarti krisis merupakan sebuah ancaman yang memiliki nilai konsekuensi yang tinggi. Sedangkan yang terakhir, krisis memiliki karakteristik “a short decision time” dimana krisis membutuhkan waktu pengambilan keputusan yang singkat.
Karakteristik dari krisis lainnya adalah memiliki tingkat resiko tertentu dan juga ketidakpastian. Pendapat lainnya tentang karakteristik krisis diungkapkan oleh Stubbart dalam (Putra, 1999:97) “Krisis dicirikan oleh adanya ketidakpastian (uncertainty), konflik kepentingan (conflict of interest), komplesitas dan keterlibatan emosional. Dari berbagai karakteristik yang ada, dapat disimpulkan bahwa kondisi krisis merupakan sebuah kondisi yang datang secara mengejutkan dengan tingkat resiko yang tinggi, terdapat didalamnya konflik kepentingan, kompleksitas dan keterlibatan emosional, serta membutuhkan wakktu pengambilan keputusan yang cepat untuk mengatasinya.
Menurut Steven Fink, seorang konsultan krisis dari Amerika telah mengembangkan konsep anatomi krisis yang dibagi atas empat tahap. Tahap-tahap tersebut saling berhubungan dan membentuk siklus. Lamanya masing-masing tahap tersebut tergantung pada sejumlah variabel. Terkadang keempat tahap berlangsung singkat, tetapi ada kalanya membutuhkan waktu berbulan-bulan. Misalnya jenis bahaya, usia perusahaan, kondisi perusahaan, ketrampilan manajer, dan sebagainya. Adapun empat fase dalam anatomi krisis menurut Steven Fink (2012: 21-25) terdiri dari:
1)      The Prodromal Crisis Stage, tahap ini merupakan peringatan awal yang menandakan awal krisis mulai terjadi yang berisikan gejala-gejala potensial sebuah krisis. Krisis yang mulai muncul pada tahap ini sulit untuk disadari karena biasanya organisasi masih akan belum merasakan dampak dan berjalan sebagaimana mestinya. Apabila perusahaan peka akan munculnya gejala-gejala tersebut akan dapat membantu perusahaan untuk mengantisipasi krisis lebih lanjut. Oleh karena itu prodromal juga sering disebut sebagai warning stage karena memberikan tanda bahaya yang harus segera diatasi. Langkah yang sebaiknya dilakukan organisasi agar krisis tidak berkembang ke tahap selanjutnya adalah signal detection, preventation, dan crisis preparation (Fink dalam Coombs, 1999:15).
2)      The Acute Crisis Stage, tahap ini sering kali dianggap sebagai tahap awal munculnya krisis, karena gejala-gejala yang sebenarnya telah muncul di tahap prodromal semakin jelas pada tahap akut. Tahap ini biasanya diawali dengan sebuah kejadian yang terjadi bersama dengan kerusakan dan dianggap sebagai trigger. Tahapan krisis ini disebut sebagai the point no return, dimana ketika gejala-gejala yang muncul pada tahap prodromal tidak diatasi dengan baik dan telah memasuki tahap akut, maka tidak akan bisa kembali lagi.
3)      The Chronic Crisis Stage, setelah melewati tahap akut, tahap kronis menjadi the clean up phase atau post mortem yang juga merupakan masa recovery bagi organisasi untuk berusaha menangani krisis. Biasanya tahap ini memakan waktu yang lebih panjang tergantung pada kemampuan manajemen dalam mengatasi krisis yang terjadi. Tuntutan biaya, peliputan media, penyelidikan, tindakan hukum biasanya akan memperpanjang tahap ini. Perubahan struktural pada organisasi juga akan menandai tahap kronis.
4)      The Crisis Resolution Stage, tahap pemulihan ini menandakan krisis sudah mulai mereda. Meskipun demikian, organisasi harus tetap berhati-hati karena kasus-kasus yang telah terjadi menunjukkan krisis belum berhenti begitu saja pada tahap ini. Pada tahap ini biasanya ditandai dengan evaluasi dan monitoring yang dilakukan organisasi.

Komunikasi Krisis
Komunikasi menjadi bagian yang krusial agar publik mendapat kepastian informasi pada saat terjadi krisis. Komunikasi krisis menjadi hal yang sangat penting untuk mengatasi kondisi krisis yang merupakan suatu turning point yang dapat membawa permasalahan ke arah yang lebih baik atau malah lebih buruk. Komunikasi krisis merupakan strategi penanganan krisis yang menfokuskan pada apa-apa saja yang harus organisasi katakan dan lakukan dalam kondisi krisis (Coombs, 1999:7).
Menurut Sturges dkk dalam (Putra, 2008:9.24), komunikasi selama krisis punya dua fungsi dasar, yakni (1) untuk menetralisir intervensi pihak ketiga yang mungkin dapat memperparah krisis yang sedang dihadapi oleh semua organisasi; (2)untuk menjaga agar karyawan tetap memperoleh informasi yang tepat tentang organisasi tempat mereka bekerja, sehingga mereka menjadi tim yang memperkuat posisi organisasi dalam menghadapi krisis. Intervensi pihak ketiga biasanya datang dari media masa yang punya prinsip untuk menyampaikan setiap realitas sosial kepada publik, termasuk krisis yang sedang dialami oleh organisasi.
Prinsip-prinsip dalam organisasi berkomunikasi di saat krisis, James E. Grunig dalam (Putra, 2008:9.31-32), menyatakan ada empat prinsip yang harus diperhatikan dalam komunikasi krisis:
1.      Prinsip hubungan, yakni organisasi dapat menangani masalah dan krisis secara lebih baik bila organisasi telah membangun hubungan yang baik dalam jangka panjang dengan berbagai publik yang terkena resiko dari keputusan dan perilaku organisasi.
2.      Prinsip akuntabilitas, yakni sebuah organisasi harus menerima tanggung jawab untuk mengelola dan menghadapi krisis, bahkan ketika krisis itu bukan karena kesalahan mereka.
3.      Prinsip pengungkapan, yakni pada saat krisis, organisasi harus membuka seluruh hal yang diketahuinya tentang krisis atau masalah yang tersangkut.
4.      Prinsip komunikasi simetris, yakni pada saat sebuah krisis menimpa organisasi, ia harus mempertimbangkan kepentingan publik paling tidak sama dengan kepentingannya sendiri.

Keberadaan prinsip-prinsip dalam komunikasi krisis ini dapat menjadi pedoman humas publik relation dalam menjalankan komunikasi krisis bagi organisasinya. Komunikasi krisis kepada stakeholder diawali dengan respon awal terhadap krisis (the initial response to the crisis). Respon awal terhadap krisis yang dilakukan organisasi sangat penting karena akan berpengaruh terhadap perkembangan krisis selanjutnya. Respon awal terhadap krisis merepresentasikan pernyataan pertama yang dibuat juru bicara tentang krisis yang dialami organisasi dan biasanyan disampaikan menggunakan media massa.

Strategi Komunikasi Krisis
Strategi komunikasi merupakan sesuatu hal penting yang harus dimiliki oleh humas (public relations) untuk membantu kinerja mereka di dalam suatu organisasi atau lembaga. Strategi humas dapat digunakan oleh lembaga pada saat menghadapi isu dan krisis yang melanda suatu lembaga.
Smith dalam (Putra, 2008:6.25-6.26) menyatakan ada tiga strategi komunikasi yang sangat penting yang dapat digunakan dalam kegiatan kehumasan. Strategi tersebut adalah publisitas, newsworthy information, dan transparent communication. Publisitas adalah strategi komunikasi dengan menggunakan perhatian yang diberikan oleh media massa terhadap organisasi karena dianggap mampu mempengaruhi pandangan publik terhadap organisasi. Newsworthy information adalah strategi komunikasi dengan menyebarluaskan informasi yang bernilai berita kepada media massa. Sedangkan transparent coomunication adalah istilah yang merujuk pada gagasan aktivitas yang terbuka dan dapat dilihat (observable) oleh sebuah organisasi, hal ini akan membantu publik dalam memahami organisasi dan mendukung setiap tindakan organisasi. Strategi dalam praktik humas biasanya mengacu kepada konsep, pendekatan atau rencana umum untuk program yang didesain guna mencapai tujuan (Cutlip, Center, dan Broom, 2006:360). Dalam konteks ini, strategi komunikasi krisis dapat diartikan sebagai konsep, pendekatan atau rencana umum komunikasi untuk program yang didesain guna menangani krisis.
Coombs (1999:125) juga menyatakan the selection of crisis communication strategies is based in part on the charecteristics of the crisis situation. Strategi komunikasi krisis yang digunakan harus disesuaikan dengan karakteristik dari kondisi krisis yang dialami organisasi. Berdasarkan pendapatnya ini, Coombs (1999:122-125) menjabarkan beberapa pilihan strategi yang dapat digunakan oleh organisasi:
1.      Attack the accuser : Organisasi melawan dengan menyerang orang atau group yang menuduh telah terjadi krisis.
2.      Denial : Organisasi menyangkal adanya krisis ataupun sesuatu yang tidak beres
3.      Excuse : Organisasi berusaha untuk mengurangi tanggung jawabnya dengan cara penolakan (bahwa organisasi tidak berkmasud melakukan hal-hal negatif) dan penyangkalan kemampuan (karena organisasi tidak mampu mengontrol situasi).
4.      Justification : Organisasi menerima krisis namun mencoba meminimalisir kerusakan yang dirasakan terkait dengan krisis. Organisasi bisa melakukannya dengan mengklaim bahwa kerusakan yang terjadi tidak serius atau mengatakan bahwa korban patut menerimanya dan mengemukakan bahwa krisis telah salah interpretasi.
5.      Ingratiation : Organisasi memuji stakeholder atau mengingatkan stakeholder akan hal-hal positif yang telah dilakukan oleh organisasi.
6.      Corrective action : Organisasi melakukan perbaikan atas kerusakan yang disebabkan oleh krisis serta mengambil langkah preventif agar krisis tidak terulang kembali. Meskipun demikian, organisasi tidak harus menerima tanggung jawab terhadap krisis.
7.      Full apology : Organisasi bertanggung jawab penuh atas krisis dan memohon maaf kepada stakeholder. Beberapa kompensasi seperti uang dapat disertakan dalam permohonan maaf.

Struges (Coombs & Shelly, 2010:29) mengungkapkan terdapat tiga strategi yang menjadi fokus perusahaan pada saat krisis yakni (1) instructing information, how to cope physically with the crisis; (2) adjusting information, how to cope psychologically with the crisis; and (3) reputation repair, attempts to ameliorate the damage a crisis inflicts on an organization. Ketiga hal tersebut saling berhubungan, dimana untuk melatih atau mengambil sebuah tindakan dan memilih informasi akan berpengaruh kepada reputasi.
Keberhasilan komunikasi krisis tergantung dari strategi komunikasi yang dibuat oleh humas organisasi dalam menghadapi krisis. Dari berbagai literature tentang komunikasi krisis, sebuah strategi komunikasi krisis paling tidak harus memuat atau mempertimbangkan beberapa hal seperti khalayak atau publik suatu organisasi, tujuan kegiatan komunikasi untuk masing-masing publik, pesan yang harus disampaikan, juru bicara atau sumber dalam komunikasi krisis serta dukungan pihak luar dalam penguatan posisi organisasi (Barton, Fearn Banks, W. Noeradi dalam Putra,1999:98)


PEMBAHASAN

Bisnis moda transportasi penumpang taksi Blue Bird sudah dirintis sejak tahun 1972 oleh Mutiara Djokosoetono di Jakarta dengan bermodalkan 25 buah taksi. Blue Bird menjadi alternatif transportasi berkualitas yang mempelopori pengenaan tarif dengan sistem argo serta dilengkapi dengan radio komunikasi. Blue Bird memiliki visi menjadi perusahaan yang mampu bertahan dan mengedepankan kualitas agar kesejahteraan stakeholder yang berkelanjutan tercapai.  Hal ini dilakukan demi tercapainya kepuasan pelanggan serta mempertahankan diri sebagai pemimpin pasar di setiap kategori yang dimasuki. Jumlah armada taksi Blue Bird yang beroperasi di Jakarta Bogor Depok Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) berkisar + 13.353 buah (merdeka.com).
Tidak selamanya organisasi atau perusahaan berjalan dengan lurus dan mulus. Suatu saat organisasi bisa saja terkena masalah atau krisis. Tidak ada satu organisasi atau perusahaan yang kebal dari krisis, baik itu organisasi besar maupun organisasi kecil. Krisis yang muncul dapat berasal dari internal maupun eksternal organisasi, dan krisis biasanya timbul secara tiba-tiba. Demikian halnya dengan perusahaan transportasi taxi Blue-Bird juga bisa mengalami krisis.
Langkah pertama organisasi harus memahami bahwa organisasi manapun selalu berisiko mengalami krisis sehingga krisis bukan menjadi alasan untuk kehancuran sebuah organisasi. oleh karena itu organisasi harus mempunyai kesiapan dan perencanaan (crisis planning) terhadap terjadinya krisis.. Blue Bird memang tidak perlu khawatir dengan resiko kehilangan pemegang saham. Karena pada dasarnya ia adalah organisasi swasta yang menawarkan layanan jasa. Tetapi ia harus khawatir tentang kehilangan goodwill yang dapat mempengaruhi penjualan layanan.
Dorley dan Garcia dalam bukunya Reputation Management (2007:328) menjelaskan bahwa “A crisis is not necessarily a catastrophic even, but rather an event that, left to usual business processes and velocities, causes significant reputational, operational, or financial harm”. Melalui pendapatnya, Dorley dan Garcia menyebutkan bahwa krisis akan membawa dampak negatif bagi perusahaan diantaranya akan mengancam reputasi organisasi, kegiatan operasional bahkan dapat mengancam finasial organisasi.
Gejala awal krisis di Blue Bird (The Prodromal Crisis Stage) sudah terlihat dengan dimulai berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi. Produk teknologi sebagai kebutuhan dan menjadi media atau channel bagi individu manusia, kelompok dan masyarakat telah menawarkan kemudahan, kecepatan, efisiensi dan memiliki dampak signifikan. Sebagai contoh teknologi gadget/smartphone telah membuktikan mampu memberi efek secara signifikan dakan perubahan sosial. Kecepatan kemajuan teknologi pun tidak bisa dibendung. Munculnya transportasi online berbasis aplikasi Uber, Gojek dan Grab yang dengan mudah dilakukan dengan menggunakan smartphone. Tahap ini merupakan peringatan awal yang menandakan awal krisis mulai terjadi yang berisikan gejala-gejala potensial sebuah krisis. Blue Bird sebenarnya telah meluncurkan aplikasi pemesanan taksi yang bisa di-download oleh pelanggan yang menggunakan smartphone berbasis Android, iOS maupun Windows Phone. Selain diperuntukkan sebagai inovasi pelayanan pelanggan yang sebelumnya hanya berbasis pemesanan by phone, hal ini merupakan metode yang ditempuh akibat munculnya kompetitor baru pelayanan tranportasi online yang berbasis aplikasi Uber, Gojek dan Grab. Transportasi online menikmati popularitas di Indonesia khususnya Jakarta karena menawarkan kemudahan, pelayanan dan harga jasa transportasi yang jauh lebih murah dibandingkan Blue Bird. Sedikit banyak, hal ini tentu mempengaruhi kondisi keuangan Blue Bird dan para karyawannya dalam mengoperasikan taksinya. Muncul persaingan antara taxi  Blue Bird  dengan Uber, Gojek dan Grab.
Puncak krisis (The Acute Crisis Stage) terjadi ketika adanya demonstrasi para pengemudi Blue Bird yang tergabung dalam Paguyuban Pengemudi Angkutan Darat (PPAD) pada tanggal 22 Maret 2016 di Jakarta. Para demonstran menuntut pemerintah agar melarang Go-car, GrabCar dan Uber untuk beroperasi karena dianggap ilegal dan tidak mengantongi ijin sebagai penyedia jasa transportasi penumpang. Akibat tindakan anarkis dalam proses demonstrasi 150 taxi Blue Bird rusak. Reputasi sebagai merk taksi yang nyaman, aman, dan santun langsung hancur dan diperparah dengan harga saham yang turun (sumber: https://www.cnnindonesia.com dan http://bisnis.liputan6.com). Saham Blue Bird terjun bebas hingga 57,75% dan masuk salah satu top losers di papan bursa efek Indonesia. Pada awal 2016 harga saham perlembar Rp.7.100,- dan akhir 2016 menjadi Rp.3.000 (bareksa.com.2017).
Selain itu Blue Bird mencatatkan penurunan laba hingga 40 persen menjadi Rp7,2 miliar sepanjang Januari-September 2016 dari periode sama tahun lalu Rp12,11 miliar. Penurunan ini disebabkan turunnya pendapatan sebesar 43 persen menjadi Rp722 miliar dari periode sama tahun sebelumnya Rp1,28 triliun. Selain masih menanggung beban usaha yang besar, perusahaan juga rugi selisih kurs sebesar Rp1,81 miliar. Penurunan kinerja perusahaan ini memang sudah dirasakan dari kemunculannya taksi berbasis online (bareksa.com.2017).
Pada tahap ini ada strategi komunikasi krisis yang harus dilakukan oleh perusahaan. Sesuai dengan ungkapan Smith, perusahaan dapat menggunakan tiga strategi komunikasi yang sangat penting yang dapat digunakan dalam kegiatan kehumasan. Strategi tersebut adalah publisitas, newsworthy information, dan transparent communication. (Putra, 2008:6.25-6.26).
Blue Bird melalui twitter dan konferensi pers melakukan strategi kegiatan kehumasan (public relations) dalam menanggapi krisis berupa publisitas, newsworthy information dan transparent coomunication. Dengan menggunakan perhatian yang diberikan oleh media massa twitter terhadap organisasi karena dianggap mampu mempengaruhi pandangan publik terhadap organisasi. selanjutnya melakukan konferensi pers sebagai strategi komunikasi dengan menyebarluaskan informasi yang bernilai berita kepada media massa. Hal ini dibuktikan manajemen Blue Bird tidak tinggal diam atas berbagai macam spekulasi dan pemberitaan yang ada di media pada tanggal 22 Maret 2016 terkait demonstrasi anarkis yang dilakukan oleh sopir taksi Blue Bird yang tergabung dalam Paguyuban Pengemudi Angkutan Darat (PPAD) . Komunikasi krisis kepada stakeholder diawali dengan respon awal terhadap krisis (the initial response to the crisis). Respon awal terhadap krisis yang dilakukan organisasi sangat penting karena akan berpengaruh terhadap perkembangan krisis selanjutnya. Langkah-langkah manajemen Blue Bird antara lain:
1.      Menggunakan new media yaitu media sosial twitter pada hari yang sama yaitu 22 Maret 2016 : ‘terkait dengan isu yang beredar, kami memastikan bahwa Blue Bird akan tetap beroperasi dan melayani penumpang seperti biasa” — Blue Bird Group (@Bluebirdgroup) March 22, 2016. (http://teknologi.metrotvnews.com)
2.      Manajemen taksi Bluebird memberi tanggapan di kantor pusat Bluebird Jl. Mampang Prapatan Jakarta pada tanggal 22 Maret 2016. Komisaris Utama Blue Bird, Noni Sri Aryati Purnomo dan Direktur Bluebird Andre Djokosoetono melakukan konferensi pers berupa permohonan maaf atas demo anarkis pengemudi Blue Bird dan akan memberikan layanan taksi gratis pada tanggal 23 Maret 2016 selama 24 jam untuk pelanggan taksi di area Jabodetabek. Langkah ini dilakukan untuk memberikan kepuasan dan menservis pelanggan. (https://news.detik.com)

Selain itu manajemen Blue Bird menggunakan beberapa pilihan strategi yang dapat digunakan sesuai pendapat dari Coombs (1999:122-125). Manajemen Blue Bird memilih stategi komunikasi krisis :
1)      Excuse : Organisasi berusaha untuk mengurangi tanggung jawabnya dengan cara penolakan (bahwa organisasi tidak bermaksud melakukan hal-hal negatif) dan penyangkalan kemampuan (karena organisasi tidak mampu mengontrol situasi). Hal ini sesuai dengan pernyataan Direktur Blue Bird Group Adrianto Djokosoetono menegaskan bahwa perseroan tidak bertanggung jawab dalam aksi demonstrasi para sopir taksi di DKI Jakarta hari ini. Pihak Blue Bird justru mengimbau para sopir tidak turut serta dalam aksi demonstrasi (www.merdeka.com).
2)      Full apology yaitu organisasi bertanggung jawab penuh atas krisis dan memohon maaf kepada stakeholder. Selanjutnya Blue Bird memberikan kompensasi berupa layanan taksi gratis pada tanggal 23 Maret 2016 selama 24 jam untuk pelanggan taksi di area Jabodetabek. Langkah ini dilakukan untuk memberikan kepuasan dan menservis pelanggan (https://news.detik.com).

The Chronic Crisis Stage, setelah melewati tahap akut, tahap kronis menjadi the clean up phase atau post mortem yang juga merupakan masa recovery bagi organisasi untuk berusaha menangani krisis. Tidak mudah bagi Blue Bird untuk mengembalikan reputasi dan pendapatan perusahaan yang terus menurun.
The Crisis Resolution Stage, tahap pemulihan ini menandakan krisis sudah mulai mereda. Meski terus melakukan perubahan dan proses pemulihan krisis, Blue Bird juga tetap menjaga nilai-nilai yang ditanamkan pendiri sejak awal perusahaan ini dibangun. Nilai-nilai itu adalah Blue Bird yang mengutamakan konsumen, pelayanan, dan integritas. Kesungguhan Blue Bird melakukan perubahan di internalnya juga ditunjukkan dengan mengadaptasi hal-hal baru. Integritas dan mengutamakan pelayanan konsumen merupakan DNA yang harus selalu dijaga dan tidak bisa diganggu gugat, apapun perubahan lingkungan bisnis yang terjadi. “Pengemudi Blue Bird dikenal jujur, mengembalikan barang pelanggan yang tertinggal, ini tetap dijaga, Dan nilai-nilai ini terus diingatkan di era perubahan ini baik itu pada driver baru mau pun yang lama.
Selain itu upaya komunikasi yang simpatik juga dilakukan Blue Bird sepanjang 2016. Di antaranya, menjadi sponsor resmi program “Mandiri Jakarta Marathon 2016”, berpartisipasi di ajang Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas), menggelar program promosi bertajuk “Kemana Aja, 20 Ribu” yang merupakan hasil kolaborasi Blue Bird dengan Mastercard. Selanjutnya, pada September 2016, Blue Bird meluncurkan iklan simpatik di mana narasi CEO Blue Bird Noni Purnomo mencoba menjelaskan kondisi dan situasi yang dihadapi Blue Bird di era disruption. Iklan tersebut tayang di media sosial YouTube dengan tajuk “Bebenah untuk Berubah” dan diapresiasi oleh masyarakat Indonesia. (http://mix.co.id)
The Crisis Resolution Stage, tahap pemulihan ini menandakan krisis sudah mulai mereda. Pada tahap pemulihan ini ada beberapa perubahan yang dilakukan manajemen perusahaan untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menghadirkan new media seperti media sosial dan start up. Perubahan bukan saja untuk pelayanan ke pelanggan, juga di dalam perusahaan. Untuk pelayanan ke pelanggan, Kemudahan akses mendapatkan pelayanan Blue Bird menjadi kuncinya. Salah satu strategi Blue Bird untuk memberikan layanan terbaik terhadap pelanggan adalah dengan memiliki multi-channel access, seperti melalui pangkalan-pangkalan di mal atau hotel, stop di jalan, call centre, dan aplikasi My Blue Bird serta Go-Blue Bird.
Pada 1 Februari 2017, Blue Bird secara legowo menggandeng “sang disruptor” Go-jek. Go-jek sebagai pelopor penyedia angkutan berbasis online yang telah mengubah peta bisnis jasa angkutan Indonesia. Go-jek meruakan pesaing utama.   Kerja sama strategis antara Blue Bird dan Go-jek diumumkan secara resmi oleh Ceo Go-jek Nabiel Makarim lewat press release yang dikirimkan ke sejumlah media. Termasuk menggelar press conference di Jakarta yang juga dihadiri oleh Pemerintah. Sejak pengumuman kerjasama dengan Go-jek terpublikasi, saham BIRD langsung merangsek naik dengan level tertinggi Rp2.910, sebelum akhirnya ditutup Rp2.900 pada 1 Februari 2017 atau naik 4,32 persen dari penutupan hari sebelumnya Rp2.780. Saham BIRD ditransaksikan sebanyak 187 kali dengan volume 3.489 lot bernilai Rp1,01 miliar. Catatan ini, membuat saham BIRD hanya turun 3,33 persen dari posisi akhir tahun 2016 Rp3.000 (bareksa.com. 2017)
Melalui partnership tersebut, Blue Bird dapat memperluas akses layanannya kepada konsumen yang telah mengunduh aplikasi Go-jek yang diperkirakan jumlahnya mencapai 10 juta orang. Jasa Blue Bird dapat dipesan melalu fitur Go-car di aplikasi Go-jek, sehingga system pembayaran serta promo yang ditetapkan Go-jek berlaku juga untuk Blue Bird. Misalnya untuk pembayaran Go-Pay, pengguna Blue Bird akan mendapat diskon 30%.
Di samping itu aplikasi My Blue Bird yang dikembangkan oleh internal perusahaan pun telah dilakukan berbagai penyesuaian agar pelanggan mudah dan interaktif dalam menggunakannya. Menjawab kebutuhan pelanggan juga My Blue Bird menyediakan cara bayar bukan hanya tunai, tapi juga bisa menggunakan Blue Bird eVoucher, kartu kredit, dan kartu debit. Sebagai upaya meningkatkan transaksi non tunai melalui aplikasi sendiri ini, diadakan program “Road to Cardiff 2017”. Setelah pengundian 24 Maret 2017, Mastercard dan Blue Bird mengirimkan lima pelanggan mereka untuk menyaksikan pertandingan final Liga Champions antara Real Madrid dan Juventus di National Stadium of Wales, Cardiff pada 30 Juni 2017.
Blue Bird menyatakan taxinya bisa diorder melalui aplikasi My Blue Bird dan Go-jek. Blue Bird menggandeng Go-jek merupakan upaya menghadapi perubahan dan upaya pemulihan dari krisis, juga mengakomodasi kebutuhan pelanggan melalui multi-channel access itu. Awalnya pelanggan Go-jek hanya bisa mendapatkan taksi Blue Bird dari menu Go-car. Kini di aplikasi Go-jek juga ada menu Go-Blue Bird juga. Jadi pelanggan yang memesan menggunakan layanan Go-car dan mendapatkan taksi Blue Bird, tarifnya akan sama dengan Go-car, tapi pelanggan hanya bisa mendapat layanan point to point seperti layaknya Go-car (tidak bisa mampir tempat lain). Sedangkan jika pelanggan memesan di aplikasi Go-jek meggunakan fitur Go-Blue Bird, tarifnya akan sama dengan Blue Bird dan dia bisa merasakan layanan sama seperti menggunakan taksi Blue Bird umumnya, pelanggan bisa mampir atau melewati rute lain. Partnership dengan Go-jek merupakan upaya Blue Bird agar layanannya bisa diakses juga melalui berbagai channel. Kolaborasi ini akan memudahkan mobilitas pelanggan Blue Bird maupun pengguna aplikasi Go-jek, terutama di lima wilayah di Indonesia: Jabodetabek, Surabaya, Bandung, Medan, dan Semarang. Walau demikian manajemen terus mengingatkan, untuk terus meningkatkan pelayanan, perubahan apapun yang terjadi saat ini. Blue Bird dikenal sebagai taxi yang memiliki reputasi baik: aman, nyaman, dan pelayanan terbaik. Ini yang terus dijaga, karena diyakini, pelayanan terbaiklah yang akan sampai di hati konsumen (swa.co.id).
Langkah yang dilakukan oleh public relation Blue Bird untuk melakukan klarifikasi melalui press conference berisi permohonan maaf dan janji untuk menggratiskan layanan taksi selama satu hari pasca demonstrasi kepada seluruh pelanggan di wilayah Jabodetabek merupakan salah satu upaya dalam memperbaiki citra. Karena memang jika tidak segera diperbaiki akan semakin memperburuk dan merugikan pihak Blue Bird sendiri. Selain itu yang dilakukan oleh PR dari Blue Bird untuk menjalin kerja sama dengan Go-jek yang memang sudah diresmikan oleh CEO Go-jek Nabiel Makarim lewat press release yang dikirimkan ke sejumlah media menjadi salah satu upaya yang dapat membangun citra positif dan saling menguntungkan satu sama lain dalam persaingan bisnis, serta beberapa kegiatan partnership lain yang dilakukan oleh Blue Bird. Dapat kita ketahui bahwa public relation dari Blue Bird merupakan comunicator fasilitator yang bertindak sebagai komunikator atau mediator untuk membantu pihak manajemen dalam hal mendengar apa yang diinginnkan dan diharapkan oleh publiknya, yang dapat dibuktikan dengan diselenggarakan pers conference oleh manajemen Blue Bird.
Tujuan adanya pers conference dan juga menjalin kerja sama dengan Go-jek maupun mitra yang lain adalah salah satu upaya Blue Bird dalam memperbaiki sekaligus membangun kembali citra positif dimata masyarakat dan melalui partnership yang dilakukannya dengan Go-jek dapat membantu memperluas akses layanan sehingga dapat mengkatrol pengasilan dari para sopir taksi Blue Bird itu sendiri. Memang dapat kita ketahui dengan munculnya taksi online menimbulkan kecemburuan taksi konvensional. Karena tarif yang dikeluarkan oleh taksi online memang jauh lebih murah dari pada taksi konvensional, terkadang ada pula oknum dari supir taksi konvensional yang nakal mempermainkan tarif dengan cara mencari jalan yang lebih jauh menuju tujan agar tarif semakin membengkak. Berbeda dengan taksi online yang memang sudah jelas tarifnya sebelum konsumen order sehingga tidak ada permainan tarif yang dapat dikatakan merugikan konsumen.
Sebelum terjadinya krisis, Blue Bird merupakan salah satu penyedia jasa yang memiliki harga saham dan market share yang tinggi. Kemudian setelah demo 22 Maret 2016 oleh pengemudi taksi Blue Bird dalam sekejab sudah membawa perusahaan pada posisi terbawah. Reputasi Blue Bird sebagai market leader jasa taksi yang profesional hancur seketika. Perusahaan benar-benar berada diposisi bawah karena memang masyarakat sudah enggan untuk menggunakan taksi Blue Bird. Oleh karena itu, Blue Bird harus kembali membangun citra postif untuk mempertahankan perusahaan dari masa krisis yang sedang terjadi. Selanjutnya berbagai hal yang dilakukan Blue Bird selama  tahap pemulihan dari krisis (The Crisis Resolution Stage) dapat mengembalikan reputasi yang negatif menjadi positif kembali serta menyelamatkan perusahaan dari tekanan krisis.


PENUTUP

Tidak selamanya organisasi atau perusahaan berjalan dengan lurus dan mulus. Suatu saat organisasi bisa saja terkena masalah atau krisis. Krisis yang muncul dapat berasal dari internal maupun eksternal organisasi, dan krisis biasanya timbul secara tiba-tiba. Puncak krisis (The Acute Crisis Stage) terjadi  oleh aksi anarkis pada demo Paguyuban Pengemudi Angkutan Darat (PPAD) pada tanggal 22 Maret 2016 di Jakarta. Reputasi sebagai merk taksi yang nyaman, aman, dan santun langsung hancur dan diperparah dengan harga saham yang turun. Akibatnya akan mengancam reputasi organisasi, kegiatan operasional bahkan dapat mengancam finansial organisasi.
Manajemen Blue Bird telah melakukan stategi komunikasi krisis untuk menghadapi krisis yaitu manajemen taksi Bluebird menggunakan media sosial twitter dan memberi tanggapan langsung kepada publik dengan melakukan konferensi pers.
Selain itu menerapkan stategi excuse dan Full apology yaitu organisasi bertanggung jawab penuh atas krisis dan memohon maaf kepada stakeholder. Selanjutnya Blue Bird memberikan kompensasi berupa layanan taksi gratis pada tanggal 23 Maret 2016 selama 24 jam untuk pelanggan taksi di area Jabodetabek. Langkah ini dilakukan untuk memberikan kepuasan dan menservis pelanggan.
Dalam proses pemulihan dan mengembalikan reputasi Blue Bird juga memanfaatkan TIK. Dengan perkembangan TIK maka Blue Bird berusaha memberikan pelayanan kepada  pelanggan dengan menggunakan multi-channel access, seperti melalui pangkalan-pangkalan di mal atau hotel, stop di jalan, telp/call centre, dan aplikasi My Blue Bird serta berkerja sama dengan Go-jek. Saat ini taxi Blue Bird bisa dipesan melalui aplikasi Go-Blue Bird. Reputasi baik: aman, nyaman, dan pelayanan terbaik. Ini yang terus dijaga, karena diyakini, pelayanan terbaiklah yang akan sampai di hati konsumen.
Reputasi atau Citra yang terbentuk pada Blue Bird adalah current image yang dapat diartikan Image atau pandangan dari eksternal perusahaan terhadap perusahaan, image yang terbentuk di publik eksternal ini ditentukan dari informasi yang mereka dapat mengenai perusahaan, atau hanya sekedar ilusi. Image ini lebih cenderung pada image negative perusahaan (informasi atau pengalaman terbatas). Blue Bird sebagai perusahaan jasa ini memang sudah memiliki reputasi yang positif dimata masyarakat sejak dulu sebagai market leader jasa taksi di Indonesia yang profesional, hingga pada akhirnya masyarakat membentuk reputasi negatif karena perilaku demonstran supir Blue Bird. Namun pihak Blue Bird berusaha membangun kembali reputasiya melalui rilis permintaan maaf  melalui media sosial twitter, press conference, memberi layanan angkutan gratis 24 jam pada tanggal 23 Maret 2016 dan juga menjalin kerjasama dengan Go-jek pada 1 Februari 2017  serta menjadi sponsorship untuk beberapa kegiatan. Hal-hal tersebut dilakukan oleh Blue Bird agar dapat mengembalikan reputasi yang negatif menjadi positif kembali serta menyelamatkan perusahaan dari tekanan krisis.


REFERENSI
Buku /Jurnal :
Argenti, Paul A (2006) ’How Technology Has Influenced the Field of Corporate Communication’. Journal of Businnes and Technical Communication/ Vol. 20 No 3 July. 357-370

Coombs, W. Timothy. (1999). Ongoing Crisis Communication: Planning, Managing, and Responding. California: SAGE Publications, Inc.

Coombs, W. Timothy and Sherry J. Holladay. (2010). The Handbook of Crisis  Communication. United Kingdom: Willey-Blackwell Publishing Ltd.

Cutlip, S. M., Center, A. H. & Broom, G. M. (2006). Effective Public Relations (Edisi IX,cet.1). Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Doorley, John, dan Fred Garcia. (2007). Reputation Management:The Key to Successful Public Relations and Corporate Communication. London & NewYork: Taylor & Francis Group.

Fink, Steven. (2012). Crisis Management: Planning for The Inevitable. Lincoln: iUniverse, Inc.

Nova, Firsan. (2009). Crisis Public Relations; Bagaimana PR Menangani Krisis Perusahaan.Jakarta: PT Grasindo.

Parrow, Richard W. (1998). “Cara Berkomunikasi dalam Situasi Krisis” Jurnal Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol.II

Putra, I. Gusti Ngurah. (1999). Manajemen Hubungan Masyarakat. Yogyakarta: Atmajaya Press.

Putra, I. Gusti Ngurah. (2008). Materi Pokok Manajemen Hubungan Masyarakat Edisi 2. Jakarta: Universitas Terbuka.


Situs online:
Lalu Rahadian , CNN Indonesia | Kamis, 24/03/2016 18:39 WIB.  diakses 12 Oktober 2017. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20160324183948-12-119599/dampak-demonstrasi-150-unit-taksi-blue-bird-rusak/

Riandanu Madi Utomo. Selasa, 22 Mar 2016 11:06 WIB.  diakses 12 Oktober 2017. http://teknologi.metrotvnews.com/read/2016/03/22/502077/demo-anarkis-blue-bird-di-bully-netizen-di-twitter


Ari Saputra. Selasa 22 Maret 2016, 17:02 WIB, diakses 12 Oktober 2017. https://news.detik.com/foto-news/d-3170817/blue-bird-tanggapi-demo-anarkis-sopir-taksi

Merdeka.com. diakses 30 September 2017 http://profil.merdeka.com/indonesia/b/blue-bird-group/

Ariyanti, Fiki. 2017.  Perusahaan Harus Ubah Strategi demi Bertahan di Era Digital. Diakses tanggal 30 September 2017.

Barirestu, herning. 2017. Begini Cara Blue Bird Hadapi Perubahan Bisnis. Diakses tanggal 30 September 2017 https://swa.co.id/swa/trends/management/begini-cara-blue-bird-hadapi-perubahan-bisnis.

Mix.co.id. 2017. Pemulihan reputasi Blue Bird. Diakses tanggal 19 Desember 2017 http://mix.co.id/corcomm-pr/public-relations/pr-year-2017-pemulihan-reputasi-blue-bird
Bareksa.com. 2017. Akhirnya, Integrasi Taksi Blue Bird dan Aplikasi GO-JEK Terwujud. Diakses tanggal 19 Desember 2017. http://www.bareksa.com/id/text/2017/02/01/akhirnya-integrasi-taksi-blue-bird-dan-aplikasi-gojek-terwujud/14761/analysis



Tidak ada komentar:

Posting Komentar